Megatsunami AI: Kenapa Setiap Talent Butuh Strategi AI Sekarang

Beberapa bulan terakhir, gw susah tidur.

Meme This Is Fine — anjing duduk tenang minum kopi di ruangan yang terbakar

Sebagai founder, gw udah lama terbiasa hidup dengan ketidakpastian; itu bagian dari pekerjaan. Tapi yang terjadi di dunia AI sejak awal tahun ini terasa lain. Sejak ChatGPT dibuka ke publik aja udah mengubah cara orang coding dan kerja secara signifikan. Dan setelah OpenClaw rilis beberapa bulan lalu, kecepatan perubahannya jadi cepet banget dan jadi PR banget buat catch up.

Ada satu momen ketika ini berhenti terasa seperti berita teknologi biasa dan mulai terasa personal buat gw. Jensen Huang ikut ngomong soal OpenClaw dan bilang bahwa Claw adalah “the next operating system for personal AI”. Lalu NVIDIA keluar dengan NemoClaw versi mereka sendiri. Foreign Minister Singapura cerita dia bikin personal agent untuk dirinya sendiri. Boris Cherny, salah satu orang di balik Claude Code, bilang AI sudah “menyelesaikan coding”. Lab-lab frontier ngerilis hal baru lebih cepet dari sebelumnya, sebagian karena AI coding assistant udah cukup matang untuk mempercepat kerja mereka sendiri.

Di titik itulah flight-or-fight gw nyala.

Karena kalau AI beneran udah menyelesaikan coding, apa artinya buat digital talent? Apa artinya buat Labtek Indie sebagai agency? Apa artinya buat Knods? Orang masih bakal pakai agency? Orang masih bakal cari talent? Gw nggak punya jawaban waktu pertanyaan-pertanyaan itu dateng. Jadi gw lakuin satu-satunya hal yang gw tahu caranya: nyemplung langsung ke dalemnya.

Beberapa bulan ke belakang gw abisin waktu buat ngejar semuanya. OpenClaw, Hermes, Claude Code, gw pakai langsung tiap hari, bukan cuma baca post X atau youtube videonya orang doang. Makin dalem gw masuk, makin jelas buat gw bahwa; Ini megatsunami, dan  bakal ngubah lanskap dunia gw, Labtek Indie dan Knods. Yang belum pasti cuma kapan.

Jadi gw berhenti berharap everything’s gonna be like before. Labtek dan Knods mutusin masuk sepenuhnya ke jalur AI. Dan pertanyaan yang tadinya bikin panik berubah jadi pertanyaan yang jauh lebih menarik buat dikerjain: Knods kayak apa yang masuk akal di era ini? Labtek Indie bakal jadi kayak apa?

Untuk Ngejawab hal itu, Gw Trace Back Perjalanan Labtek Indie dan Knods

Sepuluh tahun lalu Labtek Indie mengadopsi User-Centered Design dan Agile Software Development. Kami grinding bertahun-tahun sampai jadi praktik yang bener-bener kami kuasai, sampai akhirnya nyusun Modular Product Development Framework sendiri buat mecah proses pengembangan produk digital yang rumit jadi modul yang lebih bisa dikelola.

Selama itu, tanpa pernah nyebutnya begitu, Labtek berfungsi kayak dojo. Talent freelance kerja bareng kami lewat Knods, di bawah pengawasan QAQC Labtek Indie. Talent senior dan junior berbagi tacit knowledge di proyek yang sama. Buat mereka ini jadi bukan sekedar kerja paruh waktu. Mereka belajar praktek konsep agile dan design thinking sambil dibayar.

Itu yang mau  dihidupkan lagi, kali ini untuk era AI.

Knods yang Kami Tuju: Dojo untuk Zaman AI

Tempat talent belajar skill yang bener-bener dibutuhin di era ini sambil ngerjain proyek nyata, di lingkungan yang saling ngebimbing, semua guru semua murid, bukan menjatuhkan. Sambil itu mereka bangun jaringan baru dan memonetisasi seluruh potensi mereka: waktu, skill, pengetahuan, jaringan, bahkan modal.

Alasan gw percaya ini jalan yang bener itu sederhana; Course, Video, artikel bisa ngasih lo informasi/knowledge soal AI, dan informasi itu sekarang melimpah. Yang langka adalah kesempatan untuk praktekin knowledge itu di pekerjaan sungguhan, dengan klien sungguhan, dengan orang yang lebih senior ngoreksi hasil kerja lo. Itu yang membedakan antara tahu dan bisa. Dan itu yang selalu jadi inti dari cara Labtek Indie dan Knods bekerja.

Meme Drake — menolak: belajar sendiri AI kejar-kejaran sama semua yang baru; setuju: ngerjain proyek klien beneran sambil belajar implementasi AI dari temen proyek yang udah jago

Megatsunaminya tetap dateng, mau gw siap atau nggak. Yang berubah cuma cara gw milih berdiri ngadepinnya. Kalau lo juga ngerasain flight-or-fight yang sama beberapa bulan ini, gw cuma mau bilang satu hal: lo nggak harus ngadepin ini sendirian, dan nggak harus dari pinggir.

Saska belajar surfing, berdiri di atas papan di ombak kecil
20 tahun lalu pernah belajar surfing, mesti surf the wave lagi nih sekarang.