Blog

  • Kenapa Gatekeeping AI Justru Bikin Posisimu Terancam

    Kenapa Gatekeeping AI Justru Bikin Posisimu Terancam

    Ada satu dorongan tak kasat mata yang belakangan ini makin sering terasa di banyak perusahaan: keinginan diam-diam untuk menahan, membatasi, atau bahkan gatekeeping dari kehadiran AI.

    Banyak dari kita yang sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membangun keahlian dan mengamankan posisi yang kita tempati hari ini. Tapi tiba-tiba saja, ada tools baru yang datang dan menjanjikan efisiensi dalam hitungan detik. Reaksi pertama yang muncul sering kali bukan rasa penasaran, melainkan kewaspadaan. Ada kecemasan bahwa menggunakan AI berarti membiarkan nilai dan posisi kita terancam.

    Perasaan itu sangat wajar. Tapi, benarkah yang harus kita batasi pergerakannya adalah teknologinya? Atau justru kapasitas kita yang perlu ditingkatkan?

    Kenyamanan yang Sebenarnya Menjebak

    Sama seperti kebiasaan menahan diri dari hal baru yang belum kita kuasai, mengabaikan dan tidak menggunakan AI rasanya seperti hal yang paling bisa kita kendalikan. Kita merasa aman karena tetap bekerja dengan cara-cara lama yang sudah terbukti familiar dan punya batasan yang jelas. Ada ilusi kontrol saat kita menolak menyentuhnya: “Kalau kami tidak memainkannya, perannya tidak akan bergeser.”

    Padahal, kenyataan di luar sana bergerak dengan pola yang berbeda.

    Batas untuk mengakses dan mengoperasikan AI saat ini sudah hampir nol. Siapa pun mulai dari rekan kerja satu tim, kandidat fresh graduate, hingga kompetitor di sebelah punya akses ke alat dan potensi yang sama persis dengan yang ada di depanmu saat ini.

    Risiko terbesarnya bukan lagi tentang AI yang tiba-tiba mengambil alih pekerjaanmu secara ajaib dari langit. Risiko nyata yang sedang berjalan pelan-pelan adalah: seseorang di kursi yang sama denganku hari ini, atau yang mengincar kursi ini besok, memilih untuk belajar memanfaatkannya lebih dulu.

    Ketika ada orang lain yang berhasil mengeksekusi ide 3x lebih cepat tanpa menurunkan kualitas, pertahanannya bukan lagi masalah teknologinya canggih atau tidak, melainkan masalah relevansi.

    Sudut Pandang dari Internal Knods

    Di ekosistem Knods, kami terbiasa bekerja secara mandiri (self-managed) di mana peran dan eksplorasi cara kerja baru terus berkembang setiap hari. Dari dinamika harian ini, kami belajar satu hal penting: kunci keamanan sebuah peran di era sekarang bukan terletak pada seberapa erat kita menggenggam keahlian lama, melainkan seberapa cepat kita menjadi early adopter dan pemimpin atas perubahan itu sendiri.

    Kami sudah menjalaninya. Di Knods, ada satu “rekan kerja” yang nggak pernah tidur: Koralin, asisten AI yang kami pasang langsung di channel komunikasi dan tersambung ke tools yang kami pakai sehari-hari.

    Tugasnya kebanyakan pekerjaan yang diam-diam ternyata makan banyak waktu. Log jam kerja, reimbursement, riset klien dan membuat draft dokumen. Status proyek di Linear, jadwal meeting lintas circle, dan pertanyaan “siapa pegang role apa” bisa ditanya langsung tanpa nunggu orang yang kebetulan tahu jawabannya.

    Untuk organisasi self-managed seperti kami, ini jadi penting. Di struktur tanpa atasan yang jadi “pusat informasi”, informasi gampang tercecer di banyak kepala. Agent AI kami tidak ngambil keputusan untuk siapa pun. Dia cuma memastikan setiap orang punya akses yang sama ke informasi yang dibutuhkan untuk memutuskan sendiri.

    Ketika AI dimasukkan ke dalam alur kerja, dia tidak serta-merta menggantikan pemikiran strategis, empati, maupun intuisi manusia dalam mengambil keputusan. AI cuma memangkas jarak antara ide dan eksekusi.

    Orang yang paling bernilai di masa depan bukanlah orang yang paling gigih menolak AI, melainkan orang yang paling paham cara “menungganginya” untuk memimpin eksekusi di tim atau organisasinya.

    Mulai Memegang Kendali, Jangan Cuma Menonton

    Menunggu sampai AI benar-benar matang atau dipaksa oleh keadaan biasanya sudah terlambat. Menguasainya lebih awal bukan berarti kamu harus langsung jadi ahli teknis dalam semalam. Cukup mulai dari rasa ingin tahu dan keberanian untuk mencoba di tugas-tugas kecil harianmu.

    Jangan biarkan posisimu ditentukan oleh keengganan untuk memulai. Ambil kendalinya lebih dulu, kuasai sebelum yang lain, dan jadilah orang yang mengarahkan perubahannya.

    Langkah pertamanya bisa kamu mulai dari membaca perspektif dan pendekatan taktis yang kami pakai di Knods lewat tulisan lengkapnya di sini: https://web.knods.app/knods-insights

  • Format Oke Belum Tentu CV-mu Oke: Jebakan dalam Melamar Kerja

    Format Oke Belum Tentu CV-mu Oke: Jebakan dalam Melamar Kerja

    Format CV bisa kamu rapikan sendiri, tapi bagaimana orang lain menilai CV-mu? Evaluasi CV kamu dari 3 sudut pandang sekaligus di web.knods.app/profile.

    Ada satu angka yang menarik untuk kita bahas: recruiter rata-rata cuma butuh 7,4 detik untuk screening awal sebuah CV (Ladders Eye-Tracking Study, 2018). Cuma tujuh detik untuk memutuskan apakah dokumen yang kamu susun berhari-hari layak lolos ke tahap berikutnya atau langsung disisihkan.

    Namun, yang lebih menarik sebenarnya bukan angka tersebut, melainkan ke mana waktu penyusunan CV itu habis. Sebagian besar justru tersedot ke hal-hal yang paling mudah untuk kita nilai sendiri: merapikan margin, memilih font, menata urutan section, atau memotong halaman. Semuanya punya aturan jelas yang bisa kamu kutak-katik berulang kali sampai merasa puas.

    Jadi, masalah utamanya bukan karena kamu kurang berusaha. Usahanya justru sangat besar. Yang timpang adalah ke mana fokus dan energi itu selama ini diarahkan.

    (more…)

  • Bagaimana Organisasi Menjadi Bottleneck Adopsi AI di Indonesia

    Bagaimana Organisasi Menjadi Bottleneck Adopsi AI di Indonesia

    AI Adoption Iceberg

    Semua Orang Sudah Pakai AI. Tapi Organisasinya Belum Jalan.

    Ada angka yang menarik untuk kita bahas sebagai pembuka tulisan ini: 92% pekerja Indonesia sudah pakai AI di tempat kerja. Angka ini merupakan yang tertinggi di Asia Pasifik, di atas rata-rata global 75% (Microsoft Work Trend Index, 2024). Tools untuk AI-nya sudah sangat murah, sebagian bahkan gratis, cara menggunakannya pun tergolong mudah tanpa harus paham programming.

    Tapi ada angka lain yang jarang dibahas: cuma 19% organisasi Indonesia yang benar-benar siap menerapkan AI (Cisco AI Readiness Index, 2024).

    Jadi persoalannya terbesar itu bukan soal orang tidak mau atau tidak bisa pakai AI. Orang-orangnya sudah mulai duluan. Yang mandek itu organisasinya. Barrier teknis untuk pakai AI memang sudah rendah. Tapi barrier organisasi justru tumbuh dan menggantikannya.


    Kenapa Organisasi Mandek?

    Ada empat hal yang membuat adopsi AI di level enterprise tidak bergerak.

    1. Data yang ter-silo. Di banyak enterprise Indonesia, terutama BUMN dan korporat besar, data tersebar di antar departemen yang tidak bicara satu sama lain dan tidak ada unified data governance. Setiap divisi manage data sendiri-sendiri dan ini menjadi bottleneck terbesar untuk pengambilan keputusan akurat dan cepat berdasarkan data.

    2. Tidak ada roadmap adopsi AI yang jelas. Tanpa strategi AI yang terstruktur, adopsi AI menjadi scattered. Misalnya, satu tim coba pakai ChatGPT untuk bikin draft email dan tim lain coba Copilot untuk coding. Tidak ada keterhubungannya dan tidak ada yang mengukur dampaknya. McKinsey, EDB & Tech in Asia (2026), dalam survei terhadap 330 perusahaan di 6 negara Asia Tenggara, mencatat baru 46% yang berhasil melewati tahap pilot. Bukan karena pilotnya yang gagal tetapi karena organisasi tidak punya proses untuk belajar dari pilot kecil dan scale up secara terstruktur.

    3. Leadership belum mengambil kendali atas masalahnya. AI project seringkali dipegang oleh teman-teman dari divisi IT untuk mempermudah workflow yang sudah mereka punya. Ini dapat dipahami karena source dan lingkungan mereka lebih dekat dengan update soal AI. Sedangkan dari unit bisnis, Mid-level manager tidak punya insentif untuk mengubah proses yang sudah jalan. Di atas itu, C-suite kesulitan untuk mengkuantifikasi AI value diluar operational cost savings. Ini pola yang berulang kali muncul di riset Salesforce secara global, meski angka pastinya untuk Indonesia belum ada.

    4. Regulasi yang masih abu-abu. Di Indonesia sendiri belum ada pedoman yang jelas tentang bagaimana seharusnya regulasi dan governance data dilakukan. Aturan yang paling mendekati adalah UU Pelindungan Data Pribadi (Oktober 2022) yang sebenernya menciptakan compliance uncertainty. Dari sektor keuangan, OJK AI guidelines masih evolving. Bank dan financial institution juga berhati-hati soal penggunaan AI dalam infrastruktur mereka.

    Keempat hal ini nunjukkin orangnya udah siap berubah, bahkan sudah menggunakannya dalam workflow mereka masing-masing. Yang belum siap itu organisasinya. Kondisi yang bikin adopsi AI bisa terjadi secara optimal dan terstruktur belum hadir.


    A/B Testing sebagai Cara Mulai

    Bagaimana organisasi bisa menciptakan kondisi tersebut? Kabar baiknya, tidak perlu budget besar atau approval dari board untuk mulai. Pendekatan yang paling realistis dan terbukti adalah small-scale rollout. Kalau kamu familiar dengan istilah product development atau marketing strategy, ini basically A/B testing untuk AI adoption.

    Caranya sederhana. Ambil satu workflow yang sudah ada. Misalnya draft email ke klien, bikin laporan bulanan, riset kompetitor, atau update CRM. Kamu bisa lakukan percobaan dengan menjalankan versi tanpa AI bersamaman dengan AI, di tim yang sama. Ukur waktu, kualitas, effort, output, terus bandingkan. Jika versi AI lebih baik, scale up. Kalau enggak ada bedanya, drop aja. Cost-nya bisa sangat minimal.

    Biayanya: ChatGPT Plus atau Claude Pro, $20/bulan per orang. Untuk pilot 3 orang selama 1 bulan, total cost sekitar $180 termasuk waktu setup. Atau bisa dengan menggunakan 1 akun premium yang dishare. Kalau workflow-nya menghemat 2 jam per minggu per orang, payback period-nya 1 minggu (IDC/Microsoft, 2023).

    Ada beberapa data yang mendukung argumen ini:

    Ambil otomasi email sebagai contoh. Seorang konsultan di BCG bisa menyelesaikan draft proposal dalam setengah waktu dengan AI sebagai first draft generator, lalu review dan refine sendiri. Atau riset kompetitor, yang dulu butuh 2 hari browsing dan compile, sekarang bisa jadi 2 jam dengan AI sebagai research assistant, lalu manusia yang analisis dan memutuskan. Semua ini bisa di-A/B test tanpa mengganggu existing workflow.

    Yang penting untuk dipahami: tujuannya membantu orang bekerja lebih efisien dengan AI, mengukur dampaknya, baru diimplementasikan ke skala yang lebih besar. Bukan mengganti orang dengan AI.


    Dari Internal ke Tim lain atau Komunitas

    Dari sini kita dapat melihat kalau dari level perseorangan, para talent sudah menggunakan AI entah untuk generate draft atau sekedar brainstorming. Tapi implementasi seperti ini hanya membantu workflow personal mereka, bukan mengadopsi AI dengan sistemik. Kalau hasilnya penggunaan AI atau eksperimen ini cuma tinggal di dalam tim maupun individu, pembelajarannya jadi terbatas. Yang membuat eksperimen ini lebih powerful adalah ketika hasilnya dibagikan. Baik secara internal antar tim, atau secara external ke komunitas.

    Internal sharing itu artinya cross-team learning. Misal tim marketing yang sudah berhasil pakai AI untuk bikin campaign brief bisa share bagaimana AI diimplementasikan dalam workflow-nya ke tim divisi lain yang belum mencoba. Satu eksperimen saja tapi yang merasakan dampaknya lebih dari satu tim.

    Sedangkan external sharing artinya community learning. Di luar organisasi, ada komunitas yang terbuka untuk hal ini. Salah satu yang inspiratif adalah “How I AI” oleh Claire Vo. Series konten di mana orang-orang share screen dan demo workflow AI mereka secara praktis. Para pembicara nunjukkin cara mereka pakai AI untuk kerja sehari-hari. Series ini sudah 99 episode, tersedia di YouTube, Spotify, dan Apple Podcasts.

    Kami di Labtek Indie juga terbuka untuk hal serupa. Dari Knods dan Knods playground, kami mengadakan sharing session secara offline dan online tentang cara dan workflow menggunakan AI. Baik dari yang sudah kami implementasikan maupun trend yang selama ini kami observasi di dunia maya. Kegiatan ini seringkali berbentuk peer-to-peer, dari orang yang benar-benar pakai di kondisi kerja yang mirip dengan kondisimu. Tunggu infonya di Knods Events untuk workshop/sharing session seperti ini ya.


    Mulai dari Mana?

    Kamu enggak perlu nunggu organisasi punya AI strategy, approval dari board, atau budget ratusan juta buat mulai.

    Yang kamu butuhkan: satu workflow yang mau kamu test, satu tools AI ($20/bulan), satu minggu untuk mencoba dan mengukur, dan satu tempat untuk share hasilnya, baik internal ataupun komunitas.

    Barrier teknisnya sudah hilang. Siapapun bisa menggunakan AI. Yang tersisa sekarang pertanyaan di level organisasi: apakah kita mau menciptakan proses untuk belajar, atau tetap menunggu sampai kompetitor yang lebih kecil duluan jalan?

  • Megatsunami AI: Kenapa Setiap Talent Butuh Strategi AI Sekarang

    Megatsunami AI: Kenapa Setiap Talent Butuh Strategi AI Sekarang

    Beberapa bulan terakhir, gw susah tidur.

    Meme This Is Fine — anjing duduk tenang minum kopi di ruangan yang terbakar

    Sebagai founder, gw udah lama terbiasa hidup dengan ketidakpastian; itu bagian dari pekerjaan. Tapi yang terjadi di dunia AI sejak awal tahun ini terasa lain. Sejak ChatGPT dibuka ke publik aja udah mengubah cara orang coding dan kerja secara signifikan. Dan setelah OpenClaw rilis beberapa bulan lalu, kecepatan perubahannya jadi cepet banget dan jadi PR banget buat catch up.

    Ada satu momen ketika ini berhenti terasa seperti berita teknologi biasa dan mulai terasa personal buat gw. Jensen Huang ikut ngomong soal OpenClaw dan bilang bahwa Claw adalah “the next operating system for personal AI”. Lalu NVIDIA keluar dengan NemoClaw versi mereka sendiri. Foreign Minister Singapura cerita dia bikin personal agent untuk dirinya sendiri. Boris Cherny, salah satu orang di balik Claude Code, bilang AI sudah “menyelesaikan coding”. Lab-lab frontier ngerilis hal baru lebih cepet dari sebelumnya, sebagian karena AI coding assistant udah cukup matang untuk mempercepat kerja mereka sendiri.

    Di titik itulah flight-or-fight gw nyala.

    Karena kalau AI beneran udah menyelesaikan coding, apa artinya buat digital talent? Apa artinya buat Labtek Indie sebagai agency? Apa artinya buat Knods? Orang masih bakal pakai agency? Orang masih bakal cari talent? Gw nggak punya jawaban waktu pertanyaan-pertanyaan itu dateng. Jadi gw lakuin satu-satunya hal yang gw tahu caranya: nyemplung langsung ke dalemnya.

    Beberapa bulan ke belakang gw abisin waktu buat ngejar semuanya. OpenClaw, Hermes, Claude Code, gw pakai langsung tiap hari, bukan cuma baca post X atau youtube videonya orang doang. Makin dalem gw masuk, makin jelas buat gw bahwa; Ini megatsunami, dan  bakal ngubah lanskap dunia gw, Labtek Indie dan Knods. Yang belum pasti cuma kapan.

    Jadi gw berhenti berharap everything’s gonna be like before. Labtek dan Knods mutusin masuk sepenuhnya ke jalur AI. Dan pertanyaan yang tadinya bikin panik berubah jadi pertanyaan yang jauh lebih menarik buat dikerjain: Knods kayak apa yang masuk akal di era ini? Labtek Indie bakal jadi kayak apa?

    Untuk Ngejawab hal itu, Gw Trace Back Perjalanan Labtek Indie dan Knods

    Sepuluh tahun lalu Labtek Indie mengadopsi User-Centered Design dan Agile Software Development. Kami grinding bertahun-tahun sampai jadi praktik yang bener-bener kami kuasai, sampai akhirnya nyusun Modular Product Development Framework sendiri buat mecah proses pengembangan produk digital yang rumit jadi modul yang lebih bisa dikelola.

    Selama itu, tanpa pernah nyebutnya begitu, Labtek berfungsi kayak dojo. Talent freelance kerja bareng kami lewat Knods, di bawah pengawasan QAQC Labtek Indie. Talent senior dan junior berbagi tacit knowledge di proyek yang sama. Buat mereka ini jadi bukan sekedar kerja paruh waktu. Mereka belajar praktek konsep agile dan design thinking sambil dibayar.

    Itu yang mau  dihidupkan lagi, kali ini untuk era AI.

    Knods yang Kami Tuju: Dojo untuk Zaman AI

    Tempat talent belajar skill yang bener-bener dibutuhin di era ini sambil ngerjain proyek nyata, di lingkungan yang saling ngebimbing, semua guru semua murid, bukan menjatuhkan. Sambil itu mereka bangun jaringan baru dan memonetisasi seluruh potensi mereka: waktu, skill, pengetahuan, jaringan, bahkan modal.

    Alasan gw percaya ini jalan yang bener itu sederhana; Course, Video, artikel bisa ngasih lo informasi/knowledge soal AI, dan informasi itu sekarang melimpah. Yang langka adalah kesempatan untuk praktekin knowledge itu di pekerjaan sungguhan, dengan klien sungguhan, dengan orang yang lebih senior ngoreksi hasil kerja lo. Itu yang membedakan antara tahu dan bisa. Dan itu yang selalu jadi inti dari cara Labtek Indie dan Knods bekerja.

    Meme Drake — menolak: belajar sendiri AI kejar-kejaran sama semua yang baru; setuju: ngerjain proyek klien beneran sambil belajar implementasi AI dari temen proyek yang udah jago

    Megatsunaminya tetap dateng, mau gw siap atau nggak. Yang berubah cuma cara gw milih berdiri ngadepinnya. Kalau lo juga ngerasain flight-or-fight yang sama beberapa bulan ini, gw cuma mau bilang satu hal: lo nggak harus ngadepin ini sendirian, dan nggak harus dari pinggir.

    Saska belajar surfing, berdiri di atas papan di ombak kecil
    20 tahun lalu pernah belajar surfing, mesti surf the wave lagi nih sekarang.
  • ⚠️ Peringatan: Jaga Keamanan Kalian

    ⚠️ Peringatan: Jaga Keamanan Kalian

    Waspadai penipuan mengatasnamakan Labtek Indie.

    Kami menerima laporan adanya email penipuan yang mengatasnamakan Labtek Indie dan menawarkan pekerjaan secara tidak resmi.

    Harap perhatikan hal berikut:

    • KNODS tidak pernah meminta biaya apapun kepada talent
    • Pastikan email berasal dari domain resmi
    • Jika kamu ragu, segera cek kebenarannya lewat fitur Contact Us atau hubungi Talent Relation Knods

    Tetap hati-hati dan jangan ragu konfirmasi!

    Tim KNODS

  • 🎉 Knods Platform Update – Desember 2025

    🎉 Knods Platform Update – Desember 2025

    Halo Kawan!

    Sebelum kita menutup tahun ini, kami membawa beberapa pembaruan di platform untuk meningkatkan pengalaman kalian dalam mencari project, dapat informasi, mengikuti event, dan tetap terhubung dengan aktivitas KNODS. Berikut rangkuman lengkapnya!


    🌟 Fitur Utama

    1. Knods Updates – Rumah Baru untuk Semua Informasi

    Knods Updates resmi hadir sebagai pusat informasi yang dirancang khusus untuk talent. Di sini kamu akan menemukan:

    • Update Platform – Semua perubahan dan pengembangan fitur terbaru
    • Update Project – Informasi mengenai project berjalan maupun project baru
    • Event & Community Recap – Rangkuman kegiatan komunitas dan event sebelumnya

    Dengan adanya halaman ini, kamu bisa terus mengikuti perkembangan KNODS dengan lebih mudah dan terstruktur.

    2. Events – Lihat & Daftar Event Langsung dari Platform

    Kami juga menambahkan halaman Events yang memperlihatkan seluruh event KNODS dalam satu tempat.
    Kini kamu bisa:

    • Melihat daftar event yang sedang berjalan maupun yang akan datang
    • Membaca detail event
    • Mendaftar langsung melalui platform tanpa proses tambahan

    Fitur ini dibuat supaya kamu tidak ketinggalan kesempatan untuk ikut sesi sharing, workshop, dan event komunitas lainnya.


    🔧 Minor Updates

    Kami juga merilis beberapa penyempurnaan yang meningkatkan kenyamanan dalam menggunakan platform:

    1. Rework Navigation

    Navigasi pada platform diperbarui supaya lebih mudah digunakan.
    Beberapa penyesuaian penting:

    • Penambahan dan pengelompokan ulang item menu
    • History Project kini berada di halaman Profile
    • Pemisahan antara Project Modul dan Project Work Order agar lebih jelas

    2. In-App Notification (Iterasi 1)

    Platform kini memiliki sistem notifikasi baru untuk memberi tahu hal-hal penting secara langsung.
    Saat ini notifikasi akan muncul untuk:

    • Project Work Order baru yang sesuai dengan role kamu
    • Saat kamu mengajukan pendaftaran ke Project Work Order
    • Saat pengajuan kamu diterima atau ditolak
    • Post baru di Knods Updates
    • Event baru yang baru saja dirilis

    Sistem notifikasi ini akan terus dikembangkan agar makin responsif dan relevan.

    3. Contact Us

    Kami juga menambahkan fitur Contact Us supaya kamu bisa menyampaikan pertanyaan, kendala, atau masukan langsung dari platform.
    Saat ini masih dikirim via email, namun ke depannya akan kami tingkatkan menjadi live chat.


    💬 Bagikan Masukanmu!

    Semua pengembangan fitur di KNODS dibuat berdasarkan kebutuhan talent.
    Kami sangat terbuka untuk:

    • Ide fitur baru
    • Feedback tentang tampilan dan navigasi
    • Kritik atau saran untuk pengalaman penggunaan platform

    Masukanmu sangat berarti untuk pengembangan KNODS ke depannya.
    Sampai jumpa di update berikutnya!


    Tim KNODS

  • Recap Singkat: Dialog Sudut Pandang

    Recap Singkat: Dialog Sudut Pandang

    Beberapa hari yang lalu kami berkesempatan untuk mengundang Ibu Selly Riawanti, seorang dosen antropologi dari Bandung, untuk memberikan sekilas materi mengenai kesadaran akan kelas.

    Latar Belakang

    Beberapa waktu kebelakang, Indonesia melewati civil unrest di berbagai titik. Dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Makassar, Malang, dan berbagai kota lainnya di seluruh penjuru Indonesia. Kegentingan sipil yang terjadi ini didasari oleh berbagai isu politik, utamanya soal ketimpangan sosial. Menyikapi hal ini, saya sadar bahwa ketimpangan sosial berangkat dari ketidakadilan sistemik yang dipelihara oknum di level elit politik. Nirempati dari mereka yang menduduki kursi kekuasaan yang seharusnya melayani rakyat.

    Sebagai seorang perancang dan pengembang teknologi, empati menjadi salah satu nilai yang mendasari pembuatan teknologi. Pendekatan berbasis pengguna (user centered) haruslah berbekal rasa empati. Merekflesikan situasi yang terjadi dengan keseharian kami dalam pekerjaan, kami mengadakan kelas kuliah umum mengenai kesadaran kelas (class consciousness) secara general, juga bagaimana penerapannya bagi perancang dan pengembang teknologi. Acara ini menjadi ruang bersama untuk berdialog, mendengar, dan saling belajar tentang bagaimana kelas sosial membentuk pengalaman hidup kita; memberikan pemahaman lebih untuk membangun empati dengan kesadaran antar kelas.

    Dialog Sudut Pandang dilaksanakan di kantor Labtek Indie, bertempat di jalan Titiran no. 7, Bandung. Dekat sekali dengan salah satu landmark Kota Bandung, Monumen Perjuangan, yang mengimortalisasikan perjuangan Rakyat Indonesia mempertahankan kemerdekaan dan melawan penjajahan bangsa lain seperti Belanda, Inggris, dan Jepang. Rasanya sangat puitis mengetahui dialog dan kelas terbuka ini dilaksanakan sangat dekat dengan monumen yang merepresentasikan perjuangan kelas.

    Tapi apa itu perjuangan kelas? kesadaran akan kelas? dan mengapa itu penting?

    Tentang Kesadaran Akan Kelas

    Sebelum mencoba memahami apa itu kesadaran akan kelas, ada baiknya kita berusaha mengerti terlebih dahulu mengenai Masyarakat dan Keragamannya. Masyarakat adalah sebuah organisme hidup yang memiliki unsur terkecilnya sebagai individu yang saling berhubungan. Setiap individu ini memiliki kedudukan dan posisinya masing-masing dalam masyarakat. Ada mereka yang menjadi produsen seperti petani, nelayan, seniman dan adapula mereka yang menjadi konsumen. Ada mereka yang menjadi pengabdi rakyat dan ada pula mereka yang jadi rakyat. Setiap peran ini tidak lah kaku (rigid) dan akan berubah sebagaimana diperlukannya. Setiap peran ini memiliki hak dan kewajiban terhadap peran/kedudukan lain yang berkelindan. Hubungan antara kedudukan sosial (struktur sosial) ini bisa setara (egaliter) atau tidak setara (hierarkis) diatur oleh kebudayaan yang berlaku. Struktur sosial ini bisa menjadi sangat ketat seperti sistem kasta atau menjadi sangat renggang seperti masyarakat yang mengenal kelas sosial.

    Apa itu masyarakat yang mengenal kelas sosial? Mereka adalah masyarakat yang dimana individu didalamnya memiliki kesadaran akan kelas sosial. Memahami bagaimana kedudukan dalam lapisan masyarakat tertentu memiliki pengaruh terhadap lapisan lainnya. Dengan memiliki kesadaran akan kelas, lapisan masyarakat dapat bersatu dalam memperoleh keadilan sosial dan melawan ketidakadilan yang terpelihara secara sistemik karena kedudukan kelas.

    Agak pusing ya haha, misalnya gini deh. Kita semua sangat senang ketika lingkungan dan alam disekitar kita bersih. Kamar tidur bersih, rumah yang bersih, taman yang bersih, jalan yang bersih, atau alam yang bersih juga. Kalau kebersihan adalah sebuah hak untuk semua, maka kebijakan dari pengabdi rakyat jugalah harus memenuhi hak ini. Namun pada nyatanya di Bandung sendiri waste management menjadi masalah yang besar. TPA (Tempat Pembuangan Akhir) penuh sehingga menyakibatkan banyak TPS (Tempat Pembuangan Sementara) tertimbun gunung sampah yang belum disalurkan. Alhasil lingkungan sekitarnya menjadi bau dan kotor.

    Untuk masyarakat yang memahami isu ini akan mencoba untuk membuat perubahan dengan kondisi dan kedudukan mereka masing-masing. Mereka yang dirumah akan mencoba memilah sampahnya sendiri agar tidak dibuang ke TPS. Mereka yang mengabdi pada rakyat akan mencoba menciptakan kebijakan yang lebih baik lagi. Tapi ini hanya bisa dilakukan ketika masyarakatnya sadar. Lain cerita jika masyarakatnya tidak memiliki kesadaran akan hal ini. “Ah itu mah kan di TPS bukan di kamar saya” atau “Itu kan di kampung sebelah, bukan dikampung saya”. Pola pikir seperti ini termasuk kedalam false consciousness atau kesadaran semu. Dimana individu merasa hak nya sudah terpenuhi berdasarkan kenyamanan semu yang mereka miliki. Kamar tidur yang bersih sangatlah berbeda dengan alam yang bersih, namun kenyamanan semu ini membuat sang individu memiliki kesadaran yang dibatasi oleh kenyamanan semu itu sendiri.

    Dalam antropologi dan sosiologi, kenyamanan semu ini banyak sekali dimiliki oleh kalangan middle class. Ketika mereka merupakan kedudukan kelas proletar atau kelas pekerja yang memiliki kenyamanan lebih. Padahal hak mereka tidak terbatas pada kamar tidur yang bersih, namun sampai pada alam yang bersih.

    Contoh ini tidak hanya berpaku pada hak akan lingkungan yang bersih, namun dalam bermasyarakat banyak sekali hak-hak yang sudah diatur dalam konstitusi dan seharusnya dipenuhi oleh negara. Misalnya hak atas memperoleh pendidikan, hak atas berpendapat, hak atas berserikat, hak untuk kesehatan, dan berbagai hak lainnya.

    Kesadaran akan kelas memberikan akses untuk kita keluar dari false consciousness. Melihat dari sudut pandang yang lebih menyeluruh tentang hak dan bagaimana masyarakat secara kolektif dapat memperoleh pemenuhan hak-haknya. Memahami bahwa kedudukan dalam masyarakat memiliki pengaruh dalam pemenuhan hak.

    Bagaimana kesadaran akan kelas bagi perancang teknologi? Dengan memahami bahwa kedudukan proletar dan borjuis memiliki pengaruh yang tak sama dalam tatanan masyarakat, seorang perancang teknologi dapat menjadi peran penting dalam membentuk struktur sosial yang adil dengan memitigasi ketidakadilan sistemik.

    Kesadaran Kelas bagi perancang teknologi

    1. Teknologi Tidak Netral

    Teknologi dibentuk sebagai refleksi dari kondisi sosial yang berlangsung di masyarakat. Dan kerapkali dibangun atas kepentingan kapital, bukan kesejahteraan. Maka sejatinya keberpihakkan teknologi akan selalu pada pemegang modal bukan pada kelas pekerja. Hal ini membuat teknologi menjadi manifestasi akan intensi, bias, dan kepentingan kelas dari pemilik dan pembuat teknologi itu sendiri.

    Contohnya layanan aplikasi transportasi online. Secara sederhana, mereka memudahkan para driver untuk leluasa memilih jam kerja dan memudahkan untuk menemukan para customernya. Namun pada kenyataanya semuanya diatur secara terpusat yang mengedepankan keuntungan dan mengontrol kondisi pekerjaan, tarif, dan harga yang diatur secara ‘alogritma’. Teknologi yang netral merupakan pandangan dari kesadaran semu, karena teknologi memiliki kekuatan dan kekuasaan baik digunakan untuk memelihara hirarki atau berusaha menghancurkannya.

    2. Dampak Teknologi pada kelas sosial

    Sebagai pengembang teknologi, kita memiliki peran yang penting dalam membuat inovasi. Kesadaran akan ketidak-netralan teknologi membuat kita dapat memitigasi dan menciptakan teknologi yang adil dan inklusif. Namun jika tidak memiliki kesadaran ini, teknologi akan tetap menjadi pendorong kekuatan dan kekuasaan, dan secara tidak sadar kita menjadi pendukung yang membuat kondisi ini tetap ada.

    Misalnya dalam pengembangan teknologi terbaru saat ini, AI generatif. Saat ini pengembangan AI mencapai titik dimana kita dapat membuat gambar dan video. Sejatinya, untuk model AI ini dapat beroperasi, mereka membutuhkan banyak gambar dan video untuk dapat melatih dirinya sendiri. Namun dataset yang digunakan oleh model ini bisa membentuk model AI menjadi tidak netral atau disebut juga sebagai racial bias.

    Misalnya ketika meminta “Buat gambar seorang pencuri yang sedang tertangkap”, AI dapat membuat foto yang didasari oleh steriotip seorang pencuri (Imigran berkulit gelap). Atau meminta “buat video seorang teroris yang sedang berbincang” dan AI akan membuat video yang berisikan individu yang bersteriotip sebagai seorang teroris (berpakaian agama atau ras tertentu).

    Racial bias ini berdasarkan dari dataset yang digunakan untuk melatih model tersebut. Jika dataset tersebut terbatas pada steriotip tertentu, maka hasil generatifnya juga akan menjadi terbatas pada bias rasisme. Salah satu cara agar tidak terjadi hal ini adalah dengan memperbanyak dataset yang digunakan. Namun secara bisnis, apakah menjadi prioritas? Ketika keuntungan menjadi penggerak dan penentu utama operasi bisnis, apakah racial bias menjadi masalah yang perlu diprioritaskan?

    Inilah mengapa teknologi tidak pernah netral. Karena datang dari modal, teknologi akan selalu memprioritaskan keuntungan dibanding kesejahteraan. Dan sebagai pengembang teknologi, kesadaran ini penting karena kita dapat memitigasi ketidakadilan dan menciptakan teknologi yang adil dan inklusif.

    3. Tanggung Jawab Profesi Perancang Teknologi & Implementasi Praktek Perancangan

    Bagaimana kita bisa membuat teknologi yang adil dan mengedepankan kesejahteraan? Pada dasarnya dengan mengedepankan kesejahteraan pengguna, pemegang modal juga akan mendapatkan keuntungan yang berkelanjutan. Pengalaman penggunaan teknologi sangatlah berpengaruh pada keberlangsungan dari teknologi itu. Semakin baik pengalamannya, semakin banyak orang akan menggunakannya. Namun bagaimana kita bisa membuat itu terjadi?

    Melakukan pendekatan user-centered kita dapat membuat dan merancang teknologi menjadi terpusat pengalaman pengguna. Namun alih-alih menggunakan pendekatan ini pada manipulasi dan mengedepankan keuntungan, pendekatan ini haruslah terpusat pada kesejahteraan manusia dan perlindungan hak-hak pengguna.

    Empati menjadi karakteristik yang sangat penting untuk bisa menciptkan ini. Dengan merefleksikan posisi, pengalaman pribadi, dan privilese sebagai perancang juga melibatkan komunitas lokal dan kelompok terpinggirkan, perancang teknologi bisa mendapatkan informasi yang komprehensif tentang bagaimana menciptakan teknologi yang inklusif.

    Kesadaran akan kelas ini memberikan sudut pandang yang lebih luas dalam memelihara dan memperkaya rasa empati. Kemampuan berempati ini lah yang menjadi bekal terpenting seorang perancang teknologi. Perancang etis yang mengedepankan kesejahteraan pengguna dapat membuat teknologi yang inklusif dan memitigasi teknologi yang tidak adil.

    Ditulis Oleh
    Dzaki Dwitama

  • Recap Singkat: Menjadi Tua Tapi Bermakna, Gimana Maksudnya?

    Recap Singkat: Menjadi Tua Tapi Bermakna, Gimana Maksudnya?

    Katanya menjadi tua itu pasti, namun jadi bermakna belum tentu. Sebuah kalimat yang sangat mengena bagiku. Mungkin orang-orang bertanya, masih muda kok udah mikirin masa tua, jauh banget. Sebagai seseorang yang berusaha untuk well prepared di berbagai kesempatan, menurutku menyusun langkah dan rencana di masa depan harus dimulai sedini mungkin. Apa yang kita tanam tidak mungkin langsung dituai di hari yang sama, kan?

    Kemarin, Labtek Indie mengadakan sebuah sesi diskusi yang mengundang para senior (tokoh inspiratif yang sudah berusia diatas 60 tahun, mereka tidak lagi muda, tapi masih aktif bergerak dan membuat perubahan di bidangnya masing-masing) untuk berbagi cerita dan pengalaman. Sesi ini berjudul Designing Your Future Self, karena selain diskusi, ada sesi workshop reflektif juga untuk para peserta memetakan “mau jadi apa sih aku di masa depan” untuk kemudian dijadikan jangkar pada sesi Ideasi selanjutnya, apa saja langkah konkret yang bisa dilakukan untuk bisa mencapai tujuan itu.

    Narasumber di sesi ini bagiku sangat menarik, ada Pak Budi Rahardjo seorang pendidik dan dosen di ITB yang juga tokoh penting dalam bidang teknologi informasi dan keamanan internet. Kemudian ada Ibu Marintan Sirait, seorang seniman yang juga merupakan seorang fasilitator dan pendidik di bidang seni dan budaya. Dari awal tahu narasumbernya saja, aku langsung yakin kalau ini akan menjadi sesi yang sangat insightful dan bermakna bagiku.

    Dilaksanakan jam 3 sore, anehnya di hari itu hujan tidak turun sama sekali, padahal beberapa hari belakangan ini dari siang sampai malam pasti hujan besar di Bandung, sepertinya memang sudah direstui untuk menjalankan event ini ya..

    Dibuka dengan pemaparan terkait Labtek Indie dan Knods Playground kemudian masuk ke penjelasan teknik SCAMPER (Substitute, Combine, Adapt, Modify, Put to another use, Eliminate, Rearrange) dan kemampuan Asosiasi. SCAMPER dan kemampuan untuk Asosiasi bisa membantu kita melihat suatu hal dari berbagai sudut pandang untuk digunakan sebagai dasar mengembangkan ide. Teknik ini akan diterapkan peserta di sesi workshop nanti. Untuk lebih lengkapnya mengenai teknik SCAMPER, teman-teman tunggu tulisan selanjutnya dari publikasi kami ya!

    Nah masuklah kita ke main event, dimulai dengan perkenalan pak Budi Rahardjo dengan slide perkenalannya yang sangat lengkap. Meskipun panjang tapi sangat menyenangkan bagiku mendengarkan perjalanan hidup beliau, penceritaan yang interaktif dan sudut pandang beliau yang selalu melihat hal positif dan santai dengan berbagai kejadian di hidupnya. Beliau percaya kalau kita akan selalu ada at the right time and the right place, jadi cobalah untuk memaknai setiap momen di kehidupan kita.

    Perjalanan beliau yang sempat bersekolah ke Kanada yang rencana awalnya mau ke Amerika, malah menjadi momen yang membuka banyak perspektif baru. Awalnya mendapatkan beasiswa, namun berhenti di tahun pertama sehingga beliau harus bekerja untuk melanjutkan pendidikannya dan bertahan hidup di sana. Yang awalnya hanya untuk sekolah, bertahan sampai 11 tahun di Kanada. Menarik sekali bagaimana beliau dapat selalu melihat suatu hal dengan positif dan tidak malu mencoba dan melakukan apapun. Satu hal yang aku ingat dari penceritaan Pak Budi adalah harus jadi orang yang bermanfaat dan berintegritas. Tidak perlu khawatir dengan kehidupan, karena rejeki, pasangan, dan kematian, sudah ada yang mengatur, yang penting kita ga boleh licik, curang, dan jahat pada orang lain.

    Selanjutnya Bu Marintan yang menceritakan kisah hidupnya. Lahir dan besar di Jerman, sehingga bahasa Jerman adalah bahasa ibunya. Sejak kecil, beliau sering diajak ke pertunjukan seni dan opera, dan dari sanalah muncul minat dalam dunia seni teater. Kemudian ketika remaja, Bu Marintan mulai mendalami dan belajar tentang tari secara otodidak dan memilih untuk fokus di dunia tari. Perjalanan karier Bu Marintan saat kembali ke Bandung dimulai dengan skill berbahasa Jermannya, yang digunakan untuk menjadi penerjemah di Goethe Institut. Dari sana, beliau lanjut untuk mengajar seni rupa di berbagai sekolah internasional dan kampus. Hal yang menurutku paling berkesan dan bermakna dari perjalanan hidup Bu Marintan adalah bahwa dari kemampuan bahasa, ternyata bisa membawa kita ke berbagai kesempatan baru. Beliau juga membahas pentingnya selalu berinovasi, jangan pernah membuat sesuatu yang sudah pernah ada, jadilah berbeda dari orang lain. Yang tidak kalah penting adalah harus tetap belajar bahkan sampai usia tua, jangan biarkan diri kita kering (merasa cukup dan berhenti belajar), tetap perkaya dan pupuk wawasan diri kita dengan hal-hal baru.

    Setelah sesi sharing ini, ada sesi diskusi dimana para peserta dapat menanyakan pertanyaan atau mengonsultasikan pertanyaan-pertanyaan hidupnya kepada para narasumber. Sesi diskusi tidak terlalu panjang karena sesi harus dilanjutkan ke sesi workshop dimana para peserta mendefinisikan masa depan dan langkah-langkahnya setelah mendengarkan cerita dari narasumber.

    Pertanyaan pertama, para peserta diminta untuk menuliskan “jika saya di usia 50/60 nanti, saya mau menjadi..” bisa diisi dengan keadaan, profesi, state of mind, atau apapun.

    Kemudian peserta diminta untuk menuliskan juga poin-poin penting dari cerita para narasumber sebelumnya yang relate dengan tujuan/goals mereka. Setelah itu, mereka diminta untuk memetakan aktivitas dan keseharian orang yang mereka tulis sebelumnya. Sebagai contoh, kalau kita punya goals untuk bisa di umur 50tahun saya masih bisa bepergian sendiri dan sehat, gimana ya kesehariannya sekarang? Harapannya dengan memetakan ini, mereka jadi tahu langkah konkret paling mudah yang bisa dilakukan agar di usia tua nanti mereka bisa bermanfaat dan mencapai kehidupan yang mereka rencanakan.

    Berkesempatan untuk mendengarkan dan mengikuti sesi kemarin, membuatku sangat bersyukur dan bangga. Banyak sekali insight yang aku dapatkan, yang memang belakangan ini juga menjadi kegelisahanku. Key takeaway yg menurutku menarik untuk dicatat, adalah

    • Di usia muda, kita harus ngambil semua hal yang ada di depan, berani mencoba hal baru dan berani ambil resiko.
    • Jangan pernah berhenti untuk cari ruang buat ketemu orang baru, kesempatan baru.
    • Tetap rendah hati dan fokus untuk bergerak.
    • Perlu punya integritas dan hidup bermanfaat bagi orang lain

    Jadi, sudahkah tahukah kamu mau jadi seperti apa di masa tua?

    Ditulis Oleh
    Natasha Setyamukti

     

  • Recap Singkat: Sebuah Catatan dari Grief Circle

    Recap Singkat: Sebuah Catatan dari Grief Circle

    Hari Minggu kemarin, tepatnya tanggal 18 Mei 2025, Labtek Indie mengadakan sebuah acara yang (setidaknya bagiku) sangat menarik dan cukup berbeda dari biasanya. Yang unik, acara ini sebenarnya tidak direncanakan jauh-jauh hari. Semuanya bermula dari sebuah obrolan antara Kak Mita dan Kak Ari. Dari percakapan santai itu, tiba-tiba muncul pertanyaan iseng, “Emang bisa ya bikin diskusi ga ada yang nge-lead kayak gitu? Aneh dan awkward banget ga sih?” Tapi justru dari keraguan itu muncul ide spontan: “Ya udah, kita eksperimen aja yuk!”

    Dan benar saja, akhirnya acara itu pun diwujudkan. Kami menyebutnya Grief Circle. Buat sebagian orang, mungkin nama ini terdengar agak asing atau bahkan membingungkan. Mungkin terlintas pertanyaan seperti, “Kenapa harus berduka bareng-bareng?” atau “Ini semacam support group gitu, ya?”. Aku pun awalnya punya pertanyaan serupa. Jujur, aku agak bingung, ini sebenarnya acara apa, tujuannya untuk apa, dan manfaatnya di mana? Tapi setelah hadir, mengamati, dan menyelami suasana yang tercipta di dalam circle itu, aku sadar: ada makna yang sangat dalam di balik kesederhanaannya. Sesuatu yang tak bisa sepenuhnya dijelaskan lewat konsep atau teori, tapi bisa dirasakan begitu nyata ketika dijalani.

    Sesi ini difasilitasi oleh Kak Ardhana Riswarie, seorang art therapist yang sedang menempuh studi doktoral di The Australian National University, Australia. Sebelum acara dimulai, aku sempat mengobrol singkat dengannya tentang konsep Grief Circle dan metode yang digunakan: Leaderless Group Discussion (LGD). Menurut Kak Ari, LGD ini sering digunakan di perkuliahannya, dan menariknya, diskusi yang tercipta bukan hanya dari logika atau pendapat, tapi langsung dari pengalaman dan perasaan. Di dalam circle ini, emosi hadir lebih dulu — baru setelahnya refleksi dan pemikiran mengikuti. Aku sudah beberapa kali ikut LGD namun ternyata sesi kali ini sangat berbeda dengan sesi yang pernah aku ikuti sebelumnya.

    Acara dimulai tepat pukul tiga sore, meski saat itu baru lima peserta yang hadir. Namun, Grief Circle tetap berjalan. Kak Ari membuka dengan sedikit penjelasan, lalu menyerahkan sepenuhnya kepada forum.

    Dari luar, suasananya tampak canggung. Beberapa wajah tegang, beberapa saling melirik, seperti menunggu siapa yang akan bicara lebih dulu. Memakan waktu yang cukup lama, tapi seperti air yang akhirnya menemukan jalan, perlahan suasana mulai mencair.

    Salah satu peserta akhirnya mengambil inisiatif untuk memperkenalkan diri. Perkenalan ini lalu diikuti oleh peserta lainnya. Di tengah sesi, jumlah peserta bertambah dan circle pun mulai terasa lebih penuh tidak hanya secara fisik tapi juga emosional. Hingga akhirnya, salah satu anggota mulai membagikan kisah hidupnya, dan apa arti “grief” bagi dirinya.

    Dari situlah, ruang benar-benar terbuka. Satu per satu peserta mulai membagikan hal-hal yang biasanya hanya mereka simpan sendiri: rasa tidak percaya diri, ketakutan akan penolakan, kehilangan orang terdekat, bahkan kehilangan arah dalam hidup. Ternyata semua orang punya luka dan kebingungan yang serupa — dan justru membentuk sebuah koneksi yang tidak terbayangkan sebelumnya.

    Yang membuatku terkesan bukan hanya cerita-ceritanya, tapi cara mereka saling merespons. Tidak ada yang saling memotong atau menyela, tidak ada nasihat yang dipaksakan. Hanya kehadiran penuh, dan sesekali anggukan atau senyuman yang sangat berarti. Dari sini aku bisa melihat bahwa tidak memberikan respon adalah respon yang bisa jadi sangat dibutuhkan seseorang, cukup mendengarkan. Salah satu peserta bahkan berkata, “Berani sedih tuh ya bentuk kerendahan hati.” dan muncul pertanyaan “Jadi kematian itu good thing atau bad thing ya sebenernya?”. Kedua kalimat itu masih menempel di pikiranku hingga sekarang.

    Aku bisa melihat bagaimana dinamika kelompok ini terbentuk tanpa dipaksa. Ada yang secara alami menjadi semacam penjaga energi, membantu menjaga agar percakapan tetap berjalan. Ada yang awalnya diam lalu perlahan mulai berbicara. Ada juga yang memilih untuk hanya mendengarkan — dan di ruang ini semuanya valid.

    Dari sesi ini aku belajar banyak hal: grief bukan hanya soal kehilangan orang yang kita cintai. Tapi juga bisa berarti kehilangan versi diri kita yang dulu, kehilangan harapan, kehilangan rasa kontrol, atau kehilangan arah. Dan semua itu sah untuk dirasakan. Yang dibutuhkan hanyalah ruang yang aman untuk mengakuinya.

    Menariknya, sempat ada pembahasan soal bagaimana berada dalam ruang tanpa struktur itu bisa membuat stres. Tapi justru dari kekacauan kecil itu, terbentuk dinamika yang lebih alami dan kuat. Tidak ada peran yang dipaksakan, tidak ada tuntutan untuk selalu tahu harus berkata apa. Hanya proses menjadi manusia, apa adanya.

    Grief Circle ini hanya berlangsung dua jam, tapi buatku, terasa seperti menyaksikan kehidupan yang nyata. Tidak selalu nyaman, tapi terasa sangat jujur. Seringkali akupun masih kesulitan untuk benar-benar mengakui bentuk-bentuk kesedihanku. Tapi dari sesi ini, aku belajar betapa pentingnya untuk memberi ruang, untuk menerima dan memproses.

    Mungkin grief memang bukan sesuatu yang harus diselesaikan. Tapi ia bisa dipahami, bisa dipeluk, bisa dibagikan — asal ada ruang yang cukup aman untuk itu. Dan hari itu, ruang itu benar-benar tercipta.

    Terima kasih, Kak Ari, sudah membuka ruang ini dan membiarkannya hidup tanpa harus dikendalikan. Terima kasih pula untuk semua yang hadir, yang berani hadir apa adanya. Di lingkaran itu, aku belajar bahwa keberanian tidak selalu bersuara lantang, kadang ia hadir lewat diam, dan pelan-pelan menjadi pengikat yang paling kuat.

    Ditulis Oleh
    Natasha Setyamukti