Category: Recap Event / Community

  • Recap Singkat: Dialog Sudut Pandang

    Recap Singkat: Dialog Sudut Pandang

    Beberapa hari yang lalu kami berkesempatan untuk mengundang Ibu Selly Riawanti, seorang dosen antropologi dari Bandung, untuk memberikan sekilas materi mengenai kesadaran akan kelas.

    Latar Belakang

    Beberapa waktu kebelakang, Indonesia melewati civil unrest di berbagai titik. Dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Makassar, Malang, dan berbagai kota lainnya di seluruh penjuru Indonesia. Kegentingan sipil yang terjadi ini didasari oleh berbagai isu politik, utamanya soal ketimpangan sosial. Menyikapi hal ini, saya sadar bahwa ketimpangan sosial berangkat dari ketidakadilan sistemik yang dipelihara oknum di level elit politik. Nirempati dari mereka yang menduduki kursi kekuasaan yang seharusnya melayani rakyat.

    Sebagai seorang perancang dan pengembang teknologi, empati menjadi salah satu nilai yang mendasari pembuatan teknologi. Pendekatan berbasis pengguna (user centered) haruslah berbekal rasa empati. Merekflesikan situasi yang terjadi dengan keseharian kami dalam pekerjaan, kami mengadakan kelas kuliah umum mengenai kesadaran kelas (class consciousness) secara general, juga bagaimana penerapannya bagi perancang dan pengembang teknologi. Acara ini menjadi ruang bersama untuk berdialog, mendengar, dan saling belajar tentang bagaimana kelas sosial membentuk pengalaman hidup kita; memberikan pemahaman lebih untuk membangun empati dengan kesadaran antar kelas.

    Dialog Sudut Pandang dilaksanakan di kantor Labtek Indie, bertempat di jalan Titiran no. 7, Bandung. Dekat sekali dengan salah satu landmark Kota Bandung, Monumen Perjuangan, yang mengimortalisasikan perjuangan Rakyat Indonesia mempertahankan kemerdekaan dan melawan penjajahan bangsa lain seperti Belanda, Inggris, dan Jepang. Rasanya sangat puitis mengetahui dialog dan kelas terbuka ini dilaksanakan sangat dekat dengan monumen yang merepresentasikan perjuangan kelas.

    Tapi apa itu perjuangan kelas? kesadaran akan kelas? dan mengapa itu penting?

    Tentang Kesadaran Akan Kelas

    Sebelum mencoba memahami apa itu kesadaran akan kelas, ada baiknya kita berusaha mengerti terlebih dahulu mengenai Masyarakat dan Keragamannya. Masyarakat adalah sebuah organisme hidup yang memiliki unsur terkecilnya sebagai individu yang saling berhubungan. Setiap individu ini memiliki kedudukan dan posisinya masing-masing dalam masyarakat. Ada mereka yang menjadi produsen seperti petani, nelayan, seniman dan adapula mereka yang menjadi konsumen. Ada mereka yang menjadi pengabdi rakyat dan ada pula mereka yang jadi rakyat. Setiap peran ini tidak lah kaku (rigid) dan akan berubah sebagaimana diperlukannya. Setiap peran ini memiliki hak dan kewajiban terhadap peran/kedudukan lain yang berkelindan. Hubungan antara kedudukan sosial (struktur sosial) ini bisa setara (egaliter) atau tidak setara (hierarkis) diatur oleh kebudayaan yang berlaku. Struktur sosial ini bisa menjadi sangat ketat seperti sistem kasta atau menjadi sangat renggang seperti masyarakat yang mengenal kelas sosial.

    Apa itu masyarakat yang mengenal kelas sosial? Mereka adalah masyarakat yang dimana individu didalamnya memiliki kesadaran akan kelas sosial. Memahami bagaimana kedudukan dalam lapisan masyarakat tertentu memiliki pengaruh terhadap lapisan lainnya. Dengan memiliki kesadaran akan kelas, lapisan masyarakat dapat bersatu dalam memperoleh keadilan sosial dan melawan ketidakadilan yang terpelihara secara sistemik karena kedudukan kelas.

    Agak pusing ya haha, misalnya gini deh. Kita semua sangat senang ketika lingkungan dan alam disekitar kita bersih. Kamar tidur bersih, rumah yang bersih, taman yang bersih, jalan yang bersih, atau alam yang bersih juga. Kalau kebersihan adalah sebuah hak untuk semua, maka kebijakan dari pengabdi rakyat jugalah harus memenuhi hak ini. Namun pada nyatanya di Bandung sendiri waste management menjadi masalah yang besar. TPA (Tempat Pembuangan Akhir) penuh sehingga menyakibatkan banyak TPS (Tempat Pembuangan Sementara) tertimbun gunung sampah yang belum disalurkan. Alhasil lingkungan sekitarnya menjadi bau dan kotor.

    Untuk masyarakat yang memahami isu ini akan mencoba untuk membuat perubahan dengan kondisi dan kedudukan mereka masing-masing. Mereka yang dirumah akan mencoba memilah sampahnya sendiri agar tidak dibuang ke TPS. Mereka yang mengabdi pada rakyat akan mencoba menciptakan kebijakan yang lebih baik lagi. Tapi ini hanya bisa dilakukan ketika masyarakatnya sadar. Lain cerita jika masyarakatnya tidak memiliki kesadaran akan hal ini. “Ah itu mah kan di TPS bukan di kamar saya” atau “Itu kan di kampung sebelah, bukan dikampung saya”. Pola pikir seperti ini termasuk kedalam false consciousness atau kesadaran semu. Dimana individu merasa hak nya sudah terpenuhi berdasarkan kenyamanan semu yang mereka miliki. Kamar tidur yang bersih sangatlah berbeda dengan alam yang bersih, namun kenyamanan semu ini membuat sang individu memiliki kesadaran yang dibatasi oleh kenyamanan semu itu sendiri.

    Dalam antropologi dan sosiologi, kenyamanan semu ini banyak sekali dimiliki oleh kalangan middle class. Ketika mereka merupakan kedudukan kelas proletar atau kelas pekerja yang memiliki kenyamanan lebih. Padahal hak mereka tidak terbatas pada kamar tidur yang bersih, namun sampai pada alam yang bersih.

    Contoh ini tidak hanya berpaku pada hak akan lingkungan yang bersih, namun dalam bermasyarakat banyak sekali hak-hak yang sudah diatur dalam konstitusi dan seharusnya dipenuhi oleh negara. Misalnya hak atas memperoleh pendidikan, hak atas berpendapat, hak atas berserikat, hak untuk kesehatan, dan berbagai hak lainnya.

    Kesadaran akan kelas memberikan akses untuk kita keluar dari false consciousness. Melihat dari sudut pandang yang lebih menyeluruh tentang hak dan bagaimana masyarakat secara kolektif dapat memperoleh pemenuhan hak-haknya. Memahami bahwa kedudukan dalam masyarakat memiliki pengaruh dalam pemenuhan hak.

    Bagaimana kesadaran akan kelas bagi perancang teknologi? Dengan memahami bahwa kedudukan proletar dan borjuis memiliki pengaruh yang tak sama dalam tatanan masyarakat, seorang perancang teknologi dapat menjadi peran penting dalam membentuk struktur sosial yang adil dengan memitigasi ketidakadilan sistemik.

    Kesadaran Kelas bagi perancang teknologi

    1. Teknologi Tidak Netral

    Teknologi dibentuk sebagai refleksi dari kondisi sosial yang berlangsung di masyarakat. Dan kerapkali dibangun atas kepentingan kapital, bukan kesejahteraan. Maka sejatinya keberpihakkan teknologi akan selalu pada pemegang modal bukan pada kelas pekerja. Hal ini membuat teknologi menjadi manifestasi akan intensi, bias, dan kepentingan kelas dari pemilik dan pembuat teknologi itu sendiri.

    Contohnya layanan aplikasi transportasi online. Secara sederhana, mereka memudahkan para driver untuk leluasa memilih jam kerja dan memudahkan untuk menemukan para customernya. Namun pada kenyataanya semuanya diatur secara terpusat yang mengedepankan keuntungan dan mengontrol kondisi pekerjaan, tarif, dan harga yang diatur secara ‘alogritma’. Teknologi yang netral merupakan pandangan dari kesadaran semu, karena teknologi memiliki kekuatan dan kekuasaan baik digunakan untuk memelihara hirarki atau berusaha menghancurkannya.

    2. Dampak Teknologi pada kelas sosial

    Sebagai pengembang teknologi, kita memiliki peran yang penting dalam membuat inovasi. Kesadaran akan ketidak-netralan teknologi membuat kita dapat memitigasi dan menciptakan teknologi yang adil dan inklusif. Namun jika tidak memiliki kesadaran ini, teknologi akan tetap menjadi pendorong kekuatan dan kekuasaan, dan secara tidak sadar kita menjadi pendukung yang membuat kondisi ini tetap ada.

    Misalnya dalam pengembangan teknologi terbaru saat ini, AI generatif. Saat ini pengembangan AI mencapai titik dimana kita dapat membuat gambar dan video. Sejatinya, untuk model AI ini dapat beroperasi, mereka membutuhkan banyak gambar dan video untuk dapat melatih dirinya sendiri. Namun dataset yang digunakan oleh model ini bisa membentuk model AI menjadi tidak netral atau disebut juga sebagai racial bias.

    Misalnya ketika meminta “Buat gambar seorang pencuri yang sedang tertangkap”, AI dapat membuat foto yang didasari oleh steriotip seorang pencuri (Imigran berkulit gelap). Atau meminta “buat video seorang teroris yang sedang berbincang” dan AI akan membuat video yang berisikan individu yang bersteriotip sebagai seorang teroris (berpakaian agama atau ras tertentu).

    Racial bias ini berdasarkan dari dataset yang digunakan untuk melatih model tersebut. Jika dataset tersebut terbatas pada steriotip tertentu, maka hasil generatifnya juga akan menjadi terbatas pada bias rasisme. Salah satu cara agar tidak terjadi hal ini adalah dengan memperbanyak dataset yang digunakan. Namun secara bisnis, apakah menjadi prioritas? Ketika keuntungan menjadi penggerak dan penentu utama operasi bisnis, apakah racial bias menjadi masalah yang perlu diprioritaskan?

    Inilah mengapa teknologi tidak pernah netral. Karena datang dari modal, teknologi akan selalu memprioritaskan keuntungan dibanding kesejahteraan. Dan sebagai pengembang teknologi, kesadaran ini penting karena kita dapat memitigasi ketidakadilan dan menciptakan teknologi yang adil dan inklusif.

    3. Tanggung Jawab Profesi Perancang Teknologi & Implementasi Praktek Perancangan

    Bagaimana kita bisa membuat teknologi yang adil dan mengedepankan kesejahteraan? Pada dasarnya dengan mengedepankan kesejahteraan pengguna, pemegang modal juga akan mendapatkan keuntungan yang berkelanjutan. Pengalaman penggunaan teknologi sangatlah berpengaruh pada keberlangsungan dari teknologi itu. Semakin baik pengalamannya, semakin banyak orang akan menggunakannya. Namun bagaimana kita bisa membuat itu terjadi?

    Melakukan pendekatan user-centered kita dapat membuat dan merancang teknologi menjadi terpusat pengalaman pengguna. Namun alih-alih menggunakan pendekatan ini pada manipulasi dan mengedepankan keuntungan, pendekatan ini haruslah terpusat pada kesejahteraan manusia dan perlindungan hak-hak pengguna.

    Empati menjadi karakteristik yang sangat penting untuk bisa menciptkan ini. Dengan merefleksikan posisi, pengalaman pribadi, dan privilese sebagai perancang juga melibatkan komunitas lokal dan kelompok terpinggirkan, perancang teknologi bisa mendapatkan informasi yang komprehensif tentang bagaimana menciptakan teknologi yang inklusif.

    Kesadaran akan kelas ini memberikan sudut pandang yang lebih luas dalam memelihara dan memperkaya rasa empati. Kemampuan berempati ini lah yang menjadi bekal terpenting seorang perancang teknologi. Perancang etis yang mengedepankan kesejahteraan pengguna dapat membuat teknologi yang inklusif dan memitigasi teknologi yang tidak adil.

    Ditulis Oleh
    Dzaki Dwitama

  • Recap Singkat: Menjadi Tua Tapi Bermakna, Gimana Maksudnya?

    Recap Singkat: Menjadi Tua Tapi Bermakna, Gimana Maksudnya?

    Katanya menjadi tua itu pasti, namun jadi bermakna belum tentu. Sebuah kalimat yang sangat mengena bagiku. Mungkin orang-orang bertanya, masih muda kok udah mikirin masa tua, jauh banget. Sebagai seseorang yang berusaha untuk well prepared di berbagai kesempatan, menurutku menyusun langkah dan rencana di masa depan harus dimulai sedini mungkin. Apa yang kita tanam tidak mungkin langsung dituai di hari yang sama, kan?

    Kemarin, Labtek Indie mengadakan sebuah sesi diskusi yang mengundang para senior (tokoh inspiratif yang sudah berusia diatas 60 tahun, mereka tidak lagi muda, tapi masih aktif bergerak dan membuat perubahan di bidangnya masing-masing) untuk berbagi cerita dan pengalaman. Sesi ini berjudul Designing Your Future Self, karena selain diskusi, ada sesi workshop reflektif juga untuk para peserta memetakan “mau jadi apa sih aku di masa depan” untuk kemudian dijadikan jangkar pada sesi Ideasi selanjutnya, apa saja langkah konkret yang bisa dilakukan untuk bisa mencapai tujuan itu.

    Narasumber di sesi ini bagiku sangat menarik, ada Pak Budi Rahardjo seorang pendidik dan dosen di ITB yang juga tokoh penting dalam bidang teknologi informasi dan keamanan internet. Kemudian ada Ibu Marintan Sirait, seorang seniman yang juga merupakan seorang fasilitator dan pendidik di bidang seni dan budaya. Dari awal tahu narasumbernya saja, aku langsung yakin kalau ini akan menjadi sesi yang sangat insightful dan bermakna bagiku.

    Dilaksanakan jam 3 sore, anehnya di hari itu hujan tidak turun sama sekali, padahal beberapa hari belakangan ini dari siang sampai malam pasti hujan besar di Bandung, sepertinya memang sudah direstui untuk menjalankan event ini ya..

    Dibuka dengan pemaparan terkait Labtek Indie dan Knods Playground kemudian masuk ke penjelasan teknik SCAMPER (Substitute, Combine, Adapt, Modify, Put to another use, Eliminate, Rearrange) dan kemampuan Asosiasi. SCAMPER dan kemampuan untuk Asosiasi bisa membantu kita melihat suatu hal dari berbagai sudut pandang untuk digunakan sebagai dasar mengembangkan ide. Teknik ini akan diterapkan peserta di sesi workshop nanti. Untuk lebih lengkapnya mengenai teknik SCAMPER, teman-teman tunggu tulisan selanjutnya dari publikasi kami ya!

    Nah masuklah kita ke main event, dimulai dengan perkenalan pak Budi Rahardjo dengan slide perkenalannya yang sangat lengkap. Meskipun panjang tapi sangat menyenangkan bagiku mendengarkan perjalanan hidup beliau, penceritaan yang interaktif dan sudut pandang beliau yang selalu melihat hal positif dan santai dengan berbagai kejadian di hidupnya. Beliau percaya kalau kita akan selalu ada at the right time and the right place, jadi cobalah untuk memaknai setiap momen di kehidupan kita.

    Perjalanan beliau yang sempat bersekolah ke Kanada yang rencana awalnya mau ke Amerika, malah menjadi momen yang membuka banyak perspektif baru. Awalnya mendapatkan beasiswa, namun berhenti di tahun pertama sehingga beliau harus bekerja untuk melanjutkan pendidikannya dan bertahan hidup di sana. Yang awalnya hanya untuk sekolah, bertahan sampai 11 tahun di Kanada. Menarik sekali bagaimana beliau dapat selalu melihat suatu hal dengan positif dan tidak malu mencoba dan melakukan apapun. Satu hal yang aku ingat dari penceritaan Pak Budi adalah harus jadi orang yang bermanfaat dan berintegritas. Tidak perlu khawatir dengan kehidupan, karena rejeki, pasangan, dan kematian, sudah ada yang mengatur, yang penting kita ga boleh licik, curang, dan jahat pada orang lain.

    Selanjutnya Bu Marintan yang menceritakan kisah hidupnya. Lahir dan besar di Jerman, sehingga bahasa Jerman adalah bahasa ibunya. Sejak kecil, beliau sering diajak ke pertunjukan seni dan opera, dan dari sanalah muncul minat dalam dunia seni teater. Kemudian ketika remaja, Bu Marintan mulai mendalami dan belajar tentang tari secara otodidak dan memilih untuk fokus di dunia tari. Perjalanan karier Bu Marintan saat kembali ke Bandung dimulai dengan skill berbahasa Jermannya, yang digunakan untuk menjadi penerjemah di Goethe Institut. Dari sana, beliau lanjut untuk mengajar seni rupa di berbagai sekolah internasional dan kampus. Hal yang menurutku paling berkesan dan bermakna dari perjalanan hidup Bu Marintan adalah bahwa dari kemampuan bahasa, ternyata bisa membawa kita ke berbagai kesempatan baru. Beliau juga membahas pentingnya selalu berinovasi, jangan pernah membuat sesuatu yang sudah pernah ada, jadilah berbeda dari orang lain. Yang tidak kalah penting adalah harus tetap belajar bahkan sampai usia tua, jangan biarkan diri kita kering (merasa cukup dan berhenti belajar), tetap perkaya dan pupuk wawasan diri kita dengan hal-hal baru.

    Setelah sesi sharing ini, ada sesi diskusi dimana para peserta dapat menanyakan pertanyaan atau mengonsultasikan pertanyaan-pertanyaan hidupnya kepada para narasumber. Sesi diskusi tidak terlalu panjang karena sesi harus dilanjutkan ke sesi workshop dimana para peserta mendefinisikan masa depan dan langkah-langkahnya setelah mendengarkan cerita dari narasumber.

    Pertanyaan pertama, para peserta diminta untuk menuliskan “jika saya di usia 50/60 nanti, saya mau menjadi..” bisa diisi dengan keadaan, profesi, state of mind, atau apapun.

    Kemudian peserta diminta untuk menuliskan juga poin-poin penting dari cerita para narasumber sebelumnya yang relate dengan tujuan/goals mereka. Setelah itu, mereka diminta untuk memetakan aktivitas dan keseharian orang yang mereka tulis sebelumnya. Sebagai contoh, kalau kita punya goals untuk bisa di umur 50tahun saya masih bisa bepergian sendiri dan sehat, gimana ya kesehariannya sekarang? Harapannya dengan memetakan ini, mereka jadi tahu langkah konkret paling mudah yang bisa dilakukan agar di usia tua nanti mereka bisa bermanfaat dan mencapai kehidupan yang mereka rencanakan.

    Berkesempatan untuk mendengarkan dan mengikuti sesi kemarin, membuatku sangat bersyukur dan bangga. Banyak sekali insight yang aku dapatkan, yang memang belakangan ini juga menjadi kegelisahanku. Key takeaway yg menurutku menarik untuk dicatat, adalah

    • Di usia muda, kita harus ngambil semua hal yang ada di depan, berani mencoba hal baru dan berani ambil resiko.
    • Jangan pernah berhenti untuk cari ruang buat ketemu orang baru, kesempatan baru.
    • Tetap rendah hati dan fokus untuk bergerak.
    • Perlu punya integritas dan hidup bermanfaat bagi orang lain

    Jadi, sudahkah tahukah kamu mau jadi seperti apa di masa tua?

    Ditulis Oleh
    Natasha Setyamukti

     

  • Recap Singkat: Sebuah Catatan dari Grief Circle

    Recap Singkat: Sebuah Catatan dari Grief Circle

    Hari Minggu kemarin, tepatnya tanggal 18 Mei 2025, Labtek Indie mengadakan sebuah acara yang (setidaknya bagiku) sangat menarik dan cukup berbeda dari biasanya. Yang unik, acara ini sebenarnya tidak direncanakan jauh-jauh hari. Semuanya bermula dari sebuah obrolan antara Kak Mita dan Kak Ari. Dari percakapan santai itu, tiba-tiba muncul pertanyaan iseng, “Emang bisa ya bikin diskusi ga ada yang nge-lead kayak gitu? Aneh dan awkward banget ga sih?” Tapi justru dari keraguan itu muncul ide spontan: “Ya udah, kita eksperimen aja yuk!”

    Dan benar saja, akhirnya acara itu pun diwujudkan. Kami menyebutnya Grief Circle. Buat sebagian orang, mungkin nama ini terdengar agak asing atau bahkan membingungkan. Mungkin terlintas pertanyaan seperti, “Kenapa harus berduka bareng-bareng?” atau “Ini semacam support group gitu, ya?”. Aku pun awalnya punya pertanyaan serupa. Jujur, aku agak bingung, ini sebenarnya acara apa, tujuannya untuk apa, dan manfaatnya di mana? Tapi setelah hadir, mengamati, dan menyelami suasana yang tercipta di dalam circle itu, aku sadar: ada makna yang sangat dalam di balik kesederhanaannya. Sesuatu yang tak bisa sepenuhnya dijelaskan lewat konsep atau teori, tapi bisa dirasakan begitu nyata ketika dijalani.

    Sesi ini difasilitasi oleh Kak Ardhana Riswarie, seorang art therapist yang sedang menempuh studi doktoral di The Australian National University, Australia. Sebelum acara dimulai, aku sempat mengobrol singkat dengannya tentang konsep Grief Circle dan metode yang digunakan: Leaderless Group Discussion (LGD). Menurut Kak Ari, LGD ini sering digunakan di perkuliahannya, dan menariknya, diskusi yang tercipta bukan hanya dari logika atau pendapat, tapi langsung dari pengalaman dan perasaan. Di dalam circle ini, emosi hadir lebih dulu — baru setelahnya refleksi dan pemikiran mengikuti. Aku sudah beberapa kali ikut LGD namun ternyata sesi kali ini sangat berbeda dengan sesi yang pernah aku ikuti sebelumnya.

    Acara dimulai tepat pukul tiga sore, meski saat itu baru lima peserta yang hadir. Namun, Grief Circle tetap berjalan. Kak Ari membuka dengan sedikit penjelasan, lalu menyerahkan sepenuhnya kepada forum.

    Dari luar, suasananya tampak canggung. Beberapa wajah tegang, beberapa saling melirik, seperti menunggu siapa yang akan bicara lebih dulu. Memakan waktu yang cukup lama, tapi seperti air yang akhirnya menemukan jalan, perlahan suasana mulai mencair.

    Salah satu peserta akhirnya mengambil inisiatif untuk memperkenalkan diri. Perkenalan ini lalu diikuti oleh peserta lainnya. Di tengah sesi, jumlah peserta bertambah dan circle pun mulai terasa lebih penuh tidak hanya secara fisik tapi juga emosional. Hingga akhirnya, salah satu anggota mulai membagikan kisah hidupnya, dan apa arti “grief” bagi dirinya.

    Dari situlah, ruang benar-benar terbuka. Satu per satu peserta mulai membagikan hal-hal yang biasanya hanya mereka simpan sendiri: rasa tidak percaya diri, ketakutan akan penolakan, kehilangan orang terdekat, bahkan kehilangan arah dalam hidup. Ternyata semua orang punya luka dan kebingungan yang serupa — dan justru membentuk sebuah koneksi yang tidak terbayangkan sebelumnya.

    Yang membuatku terkesan bukan hanya cerita-ceritanya, tapi cara mereka saling merespons. Tidak ada yang saling memotong atau menyela, tidak ada nasihat yang dipaksakan. Hanya kehadiran penuh, dan sesekali anggukan atau senyuman yang sangat berarti. Dari sini aku bisa melihat bahwa tidak memberikan respon adalah respon yang bisa jadi sangat dibutuhkan seseorang, cukup mendengarkan. Salah satu peserta bahkan berkata, “Berani sedih tuh ya bentuk kerendahan hati.” dan muncul pertanyaan “Jadi kematian itu good thing atau bad thing ya sebenernya?”. Kedua kalimat itu masih menempel di pikiranku hingga sekarang.

    Aku bisa melihat bagaimana dinamika kelompok ini terbentuk tanpa dipaksa. Ada yang secara alami menjadi semacam penjaga energi, membantu menjaga agar percakapan tetap berjalan. Ada yang awalnya diam lalu perlahan mulai berbicara. Ada juga yang memilih untuk hanya mendengarkan — dan di ruang ini semuanya valid.

    Dari sesi ini aku belajar banyak hal: grief bukan hanya soal kehilangan orang yang kita cintai. Tapi juga bisa berarti kehilangan versi diri kita yang dulu, kehilangan harapan, kehilangan rasa kontrol, atau kehilangan arah. Dan semua itu sah untuk dirasakan. Yang dibutuhkan hanyalah ruang yang aman untuk mengakuinya.

    Menariknya, sempat ada pembahasan soal bagaimana berada dalam ruang tanpa struktur itu bisa membuat stres. Tapi justru dari kekacauan kecil itu, terbentuk dinamika yang lebih alami dan kuat. Tidak ada peran yang dipaksakan, tidak ada tuntutan untuk selalu tahu harus berkata apa. Hanya proses menjadi manusia, apa adanya.

    Grief Circle ini hanya berlangsung dua jam, tapi buatku, terasa seperti menyaksikan kehidupan yang nyata. Tidak selalu nyaman, tapi terasa sangat jujur. Seringkali akupun masih kesulitan untuk benar-benar mengakui bentuk-bentuk kesedihanku. Tapi dari sesi ini, aku belajar betapa pentingnya untuk memberi ruang, untuk menerima dan memproses.

    Mungkin grief memang bukan sesuatu yang harus diselesaikan. Tapi ia bisa dipahami, bisa dipeluk, bisa dibagikan — asal ada ruang yang cukup aman untuk itu. Dan hari itu, ruang itu benar-benar tercipta.

    Terima kasih, Kak Ari, sudah membuka ruang ini dan membiarkannya hidup tanpa harus dikendalikan. Terima kasih pula untuk semua yang hadir, yang berani hadir apa adanya. Di lingkaran itu, aku belajar bahwa keberanian tidak selalu bersuara lantang, kadang ia hadir lewat diam, dan pelan-pelan menjadi pengikat yang paling kuat.

    Ditulis Oleh
    Natasha Setyamukti

  • Recap Singkat: Menyusuri Jejak Ratna Asmara & Pentingnya Arsip Film Indonesia

    Recap Singkat: Menyusuri Jejak Ratna Asmara & Pentingnya Arsip Film Indonesia

    Selama dua hari yang penuh refleksi dan kehangatan, pada 3 & 4 Mei 2025 kami mengikuti kegiatan nonton bareng yang tak hanya mempertemukan kami dengan karya-karya masa lalu, tapi juga membuka mata tentang pentingnya arsip dalam menjaga sejarah dan identitas bangsa.Hari pertama, di studio Sinesofia UNPAR kami menonton film klasik Dr. Samsi karya Ratna Asmara — sutradara perempuan pertama di Indonesia.

    Menyaksikan film ini seperti menyentuh jejak langkah seorang perempuan yang melawan batasan zamannya lewat medium film. Film ini bukan hanya karya sinema, tapi juga warisan tentang keberanian dan keteguhan.Diskusi setelah menonton film terasa begitu intim dan membangun. Mba Ariani Darmawan dari Kineruku menceritakan bagaimana ruang arsip dan komunitas menjadi penjaga ingatan kolektif, tempat orang-orang bisa saling belajar dan merawat sejarah secara bersama. Beliau juga banyak membagikan cerita mengenai perjalanan hidup Bu Ratna Asmara. Kak Gorivana Ageza dari Integrated Arts Unpar dan Sinesofia menyoroti bahwa Dr. Samsi bukan sekadar film lama, tapi karya yang mengandung nilai-nilai sosial dan perjuangan yang masih relevan hari ini. Kak Julita Pratiwi dari Liarsip mengingatkan kami bahwa tanpa arsip, sejarah bisa hilang begitu saja. Ia juga membagikan proses panjang dan penuh dedikasi dalam merawat, menyimpan, dan menyebarkan kembali film-film bersejarah seperti ini.

    Hari kedua, di Labtek Indie kami menonton dokumenter tentang proses digitalisasi film Dr. Samsi. Rasanya seperti menengok balik ke ruang-ruang kerja sunyi penuh ketelitian dan cinta yang selama ini tak banyak terlihat.

    Dokumenter ini memperlihatkan bahwa menyelamatkan arsip bukan pekerjaan instan, melainkan kerja kolektif berbagai pihak yang melewati waktu, tenaga, dan emosi.Kak Julita Pratiwi kembali menguatkan pentingnya melihat arsip bukan sebagai masa lalu yang mati, tapi sebagai napas panjang yang menghubungkan generasi. Mengangkat pentingnya generasi muda untuk ikut terlibat dalam menjaga, merawat, dan menghidupkan kembali ingatan kolektif bangsa.Kak Ersya Ruswandono sebagai sutradara film ini juga membagikan kisah di balik pembuatan dokumenter — tentang bagaimana setiap detik proses digitalisasi menyimpan cerita yang tak terlihat di layar. Secara pribadi, kami belajar bahwa arsip bukan hanya menyimpan memori, tapi juga menyalakan ulang semangat — untuk berkarya, merawat, dan mencintai warisan budaya kita.

    Melalui kisah Bu Ratna dan dedikasi semua pihak yang terlibat, kami disadarkan: menjaga arsip adalah menjaga masa depan, karena sesuatu yang tidak diketahui belum tentu tidak ada.Terima kasih untuk semua narasumber yang sudah berbagi pengetahuan dan kehangatan, para peserta dan untuk Bu Ratna yang sudah menjadi jantung dari semua cerita ini.

    Ditulis Oleh
    Natasha Setyamukti