Hari Minggu kemarin, tepatnya tanggal 18 Mei 2025, Labtek Indie mengadakan sebuah acara yang (setidaknya bagiku) sangat menarik dan cukup berbeda dari biasanya. Yang unik, acara ini sebenarnya tidak direncanakan jauh-jauh hari. Semuanya bermula dari sebuah obrolan antara Kak Mita dan Kak Ari. Dari percakapan santai itu, tiba-tiba muncul pertanyaan iseng, “Emang bisa ya bikin diskusi ga ada yang nge-lead kayak gitu? Aneh dan awkward banget ga sih?” Tapi justru dari keraguan itu muncul ide spontan: “Ya udah, kita eksperimen aja yuk!”
Dan benar saja, akhirnya acara itu pun diwujudkan. Kami menyebutnya Grief Circle. Buat sebagian orang, mungkin nama ini terdengar agak asing atau bahkan membingungkan. Mungkin terlintas pertanyaan seperti, “Kenapa harus berduka bareng-bareng?” atau “Ini semacam support group gitu, ya?”. Aku pun awalnya punya pertanyaan serupa. Jujur, aku agak bingung, ini sebenarnya acara apa, tujuannya untuk apa, dan manfaatnya di mana? Tapi setelah hadir, mengamati, dan menyelami suasana yang tercipta di dalam circle itu, aku sadar: ada makna yang sangat dalam di balik kesederhanaannya. Sesuatu yang tak bisa sepenuhnya dijelaskan lewat konsep atau teori, tapi bisa dirasakan begitu nyata ketika dijalani.
Sesi ini difasilitasi oleh Kak Ardhana Riswarie, seorang art therapist yang sedang menempuh studi doktoral di The Australian National University, Australia. Sebelum acara dimulai, aku sempat mengobrol singkat dengannya tentang konsep Grief Circle dan metode yang digunakan: Leaderless Group Discussion (LGD). Menurut Kak Ari, LGD ini sering digunakan di perkuliahannya, dan menariknya, diskusi yang tercipta bukan hanya dari logika atau pendapat, tapi langsung dari pengalaman dan perasaan. Di dalam circle ini, emosi hadir lebih dulu — baru setelahnya refleksi dan pemikiran mengikuti. Aku sudah beberapa kali ikut LGD namun ternyata sesi kali ini sangat berbeda dengan sesi yang pernah aku ikuti sebelumnya.
Acara dimulai tepat pukul tiga sore, meski saat itu baru lima peserta yang hadir. Namun, Grief Circle tetap berjalan. Kak Ari membuka dengan sedikit penjelasan, lalu menyerahkan sepenuhnya kepada forum.

Dari luar, suasananya tampak canggung. Beberapa wajah tegang, beberapa saling melirik, seperti menunggu siapa yang akan bicara lebih dulu. Memakan waktu yang cukup lama, tapi seperti air yang akhirnya menemukan jalan, perlahan suasana mulai mencair.
Salah satu peserta akhirnya mengambil inisiatif untuk memperkenalkan diri. Perkenalan ini lalu diikuti oleh peserta lainnya. Di tengah sesi, jumlah peserta bertambah dan circle pun mulai terasa lebih penuh tidak hanya secara fisik tapi juga emosional. Hingga akhirnya, salah satu anggota mulai membagikan kisah hidupnya, dan apa arti “grief” bagi dirinya.
Dari situlah, ruang benar-benar terbuka. Satu per satu peserta mulai membagikan hal-hal yang biasanya hanya mereka simpan sendiri: rasa tidak percaya diri, ketakutan akan penolakan, kehilangan orang terdekat, bahkan kehilangan arah dalam hidup. Ternyata semua orang punya luka dan kebingungan yang serupa — dan justru membentuk sebuah koneksi yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Yang membuatku terkesan bukan hanya cerita-ceritanya, tapi cara mereka saling merespons. Tidak ada yang saling memotong atau menyela, tidak ada nasihat yang dipaksakan. Hanya kehadiran penuh, dan sesekali anggukan atau senyuman yang sangat berarti. Dari sini aku bisa melihat bahwa tidak memberikan respon adalah respon yang bisa jadi sangat dibutuhkan seseorang, cukup mendengarkan. Salah satu peserta bahkan berkata, “Berani sedih tuh ya bentuk kerendahan hati.” dan muncul pertanyaan “Jadi kematian itu good thing atau bad thing ya sebenernya?”. Kedua kalimat itu masih menempel di pikiranku hingga sekarang.
Aku bisa melihat bagaimana dinamika kelompok ini terbentuk tanpa dipaksa. Ada yang secara alami menjadi semacam penjaga energi, membantu menjaga agar percakapan tetap berjalan. Ada yang awalnya diam lalu perlahan mulai berbicara. Ada juga yang memilih untuk hanya mendengarkan — dan di ruang ini semuanya valid.
Dari sesi ini aku belajar banyak hal: grief bukan hanya soal kehilangan orang yang kita cintai. Tapi juga bisa berarti kehilangan versi diri kita yang dulu, kehilangan harapan, kehilangan rasa kontrol, atau kehilangan arah. Dan semua itu sah untuk dirasakan. Yang dibutuhkan hanyalah ruang yang aman untuk mengakuinya.
Menariknya, sempat ada pembahasan soal bagaimana berada dalam ruang tanpa struktur itu bisa membuat stres. Tapi justru dari kekacauan kecil itu, terbentuk dinamika yang lebih alami dan kuat. Tidak ada peran yang dipaksakan, tidak ada tuntutan untuk selalu tahu harus berkata apa. Hanya proses menjadi manusia, apa adanya.
Grief Circle ini hanya berlangsung dua jam, tapi buatku, terasa seperti menyaksikan kehidupan yang nyata. Tidak selalu nyaman, tapi terasa sangat jujur. Seringkali akupun masih kesulitan untuk benar-benar mengakui bentuk-bentuk kesedihanku. Tapi dari sesi ini, aku belajar betapa pentingnya untuk memberi ruang, untuk menerima dan memproses.

Mungkin grief memang bukan sesuatu yang harus diselesaikan. Tapi ia bisa dipahami, bisa dipeluk, bisa dibagikan — asal ada ruang yang cukup aman untuk itu. Dan hari itu, ruang itu benar-benar tercipta.
Terima kasih, Kak Ari, sudah membuka ruang ini dan membiarkannya hidup tanpa harus dikendalikan. Terima kasih pula untuk semua yang hadir, yang berani hadir apa adanya. Di lingkaran itu, aku belajar bahwa keberanian tidak selalu bersuara lantang, kadang ia hadir lewat diam, dan pelan-pelan menjadi pengikat yang paling kuat.
Ditulis Oleh
Natasha Setyamukti