Recap Singkat: Menyusuri Jejak Ratna Asmara & Pentingnya Arsip Film Indonesia

Selama dua hari yang penuh refleksi dan kehangatan, pada 3 & 4 Mei 2025 kami mengikuti kegiatan nonton bareng yang tak hanya mempertemukan kami dengan karya-karya masa lalu, tapi juga membuka mata tentang pentingnya arsip dalam menjaga sejarah dan identitas bangsa.Hari pertama, di studio Sinesofia UNPAR kami menonton film klasik Dr. Samsi karya Ratna Asmara — sutradara perempuan pertama di Indonesia.

Menyaksikan film ini seperti menyentuh jejak langkah seorang perempuan yang melawan batasan zamannya lewat medium film. Film ini bukan hanya karya sinema, tapi juga warisan tentang keberanian dan keteguhan.Diskusi setelah menonton film terasa begitu intim dan membangun. Mba Ariani Darmawan dari Kineruku menceritakan bagaimana ruang arsip dan komunitas menjadi penjaga ingatan kolektif, tempat orang-orang bisa saling belajar dan merawat sejarah secara bersama. Beliau juga banyak membagikan cerita mengenai perjalanan hidup Bu Ratna Asmara. Kak Gorivana Ageza dari Integrated Arts Unpar dan Sinesofia menyoroti bahwa Dr. Samsi bukan sekadar film lama, tapi karya yang mengandung nilai-nilai sosial dan perjuangan yang masih relevan hari ini. Kak Julita Pratiwi dari Liarsip mengingatkan kami bahwa tanpa arsip, sejarah bisa hilang begitu saja. Ia juga membagikan proses panjang dan penuh dedikasi dalam merawat, menyimpan, dan menyebarkan kembali film-film bersejarah seperti ini.

Hari kedua, di Labtek Indie kami menonton dokumenter tentang proses digitalisasi film Dr. Samsi. Rasanya seperti menengok balik ke ruang-ruang kerja sunyi penuh ketelitian dan cinta yang selama ini tak banyak terlihat.

Dokumenter ini memperlihatkan bahwa menyelamatkan arsip bukan pekerjaan instan, melainkan kerja kolektif berbagai pihak yang melewati waktu, tenaga, dan emosi.Kak Julita Pratiwi kembali menguatkan pentingnya melihat arsip bukan sebagai masa lalu yang mati, tapi sebagai napas panjang yang menghubungkan generasi. Mengangkat pentingnya generasi muda untuk ikut terlibat dalam menjaga, merawat, dan menghidupkan kembali ingatan kolektif bangsa.Kak Ersya Ruswandono sebagai sutradara film ini juga membagikan kisah di balik pembuatan dokumenter — tentang bagaimana setiap detik proses digitalisasi menyimpan cerita yang tak terlihat di layar. Secara pribadi, kami belajar bahwa arsip bukan hanya menyimpan memori, tapi juga menyalakan ulang semangat — untuk berkarya, merawat, dan mencintai warisan budaya kita.

Melalui kisah Bu Ratna dan dedikasi semua pihak yang terlibat, kami disadarkan: menjaga arsip adalah menjaga masa depan, karena sesuatu yang tidak diketahui belum tentu tidak ada.Terima kasih untuk semua narasumber yang sudah berbagi pengetahuan dan kehangatan, para peserta dan untuk Bu Ratna yang sudah menjadi jantung dari semua cerita ini.

Ditulis Oleh
Natasha Setyamukti