Beberapa hari yang lalu kami berkesempatan untuk mengundang Ibu Selly Riawanti, seorang dosen antropologi dari Bandung, untuk memberikan sekilas materi mengenai kesadaran akan kelas.
Latar Belakang
Beberapa waktu kebelakang, Indonesia melewati civil unrest di berbagai titik. Dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Makassar, Malang, dan berbagai kota lainnya di seluruh penjuru Indonesia. Kegentingan sipil yang terjadi ini didasari oleh berbagai isu politik, utamanya soal ketimpangan sosial. Menyikapi hal ini, saya sadar bahwa ketimpangan sosial berangkat dari ketidakadilan sistemik yang dipelihara oknum di level elit politik. Nirempati dari mereka yang menduduki kursi kekuasaan yang seharusnya melayani rakyat.
Sebagai seorang perancang dan pengembang teknologi, empati menjadi salah satu nilai yang mendasari pembuatan teknologi. Pendekatan berbasis pengguna (user centered) haruslah berbekal rasa empati. Merekflesikan situasi yang terjadi dengan keseharian kami dalam pekerjaan, kami mengadakan kelas kuliah umum mengenai kesadaran kelas (class consciousness) secara general, juga bagaimana penerapannya bagi perancang dan pengembang teknologi. Acara ini menjadi ruang bersama untuk berdialog, mendengar, dan saling belajar tentang bagaimana kelas sosial membentuk pengalaman hidup kita; memberikan pemahaman lebih untuk membangun empati dengan kesadaran antar kelas.
Dialog Sudut Pandang dilaksanakan di kantor Labtek Indie, bertempat di jalan Titiran no. 7, Bandung. Dekat sekali dengan salah satu landmark Kota Bandung, Monumen Perjuangan, yang mengimortalisasikan perjuangan Rakyat Indonesia mempertahankan kemerdekaan dan melawan penjajahan bangsa lain seperti Belanda, Inggris, dan Jepang. Rasanya sangat puitis mengetahui dialog dan kelas terbuka ini dilaksanakan sangat dekat dengan monumen yang merepresentasikan perjuangan kelas.
Tapi apa itu perjuangan kelas? kesadaran akan kelas? dan mengapa itu penting?
Tentang Kesadaran Akan Kelas
Sebelum mencoba memahami apa itu kesadaran akan kelas, ada baiknya kita berusaha mengerti terlebih dahulu mengenai Masyarakat dan Keragamannya. Masyarakat adalah sebuah organisme hidup yang memiliki unsur terkecilnya sebagai individu yang saling berhubungan. Setiap individu ini memiliki kedudukan dan posisinya masing-masing dalam masyarakat. Ada mereka yang menjadi produsen seperti petani, nelayan, seniman dan adapula mereka yang menjadi konsumen. Ada mereka yang menjadi pengabdi rakyat dan ada pula mereka yang jadi rakyat. Setiap peran ini tidak lah kaku (rigid) dan akan berubah sebagaimana diperlukannya. Setiap peran ini memiliki hak dan kewajiban terhadap peran/kedudukan lain yang berkelindan. Hubungan antara kedudukan sosial (struktur sosial) ini bisa setara (egaliter) atau tidak setara (hierarkis) diatur oleh kebudayaan yang berlaku. Struktur sosial ini bisa menjadi sangat ketat seperti sistem kasta atau menjadi sangat renggang seperti masyarakat yang mengenal kelas sosial.
Apa itu masyarakat yang mengenal kelas sosial? Mereka adalah masyarakat yang dimana individu didalamnya memiliki kesadaran akan kelas sosial. Memahami bagaimana kedudukan dalam lapisan masyarakat tertentu memiliki pengaruh terhadap lapisan lainnya. Dengan memiliki kesadaran akan kelas, lapisan masyarakat dapat bersatu dalam memperoleh keadilan sosial dan melawan ketidakadilan yang terpelihara secara sistemik karena kedudukan kelas.
Agak pusing ya haha, misalnya gini deh. Kita semua sangat senang ketika lingkungan dan alam disekitar kita bersih. Kamar tidur bersih, rumah yang bersih, taman yang bersih, jalan yang bersih, atau alam yang bersih juga. Kalau kebersihan adalah sebuah hak untuk semua, maka kebijakan dari pengabdi rakyat jugalah harus memenuhi hak ini. Namun pada nyatanya di Bandung sendiri waste management menjadi masalah yang besar. TPA (Tempat Pembuangan Akhir) penuh sehingga menyakibatkan banyak TPS (Tempat Pembuangan Sementara) tertimbun gunung sampah yang belum disalurkan. Alhasil lingkungan sekitarnya menjadi bau dan kotor.
Untuk masyarakat yang memahami isu ini akan mencoba untuk membuat perubahan dengan kondisi dan kedudukan mereka masing-masing. Mereka yang dirumah akan mencoba memilah sampahnya sendiri agar tidak dibuang ke TPS. Mereka yang mengabdi pada rakyat akan mencoba menciptakan kebijakan yang lebih baik lagi. Tapi ini hanya bisa dilakukan ketika masyarakatnya sadar. Lain cerita jika masyarakatnya tidak memiliki kesadaran akan hal ini. “Ah itu mah kan di TPS bukan di kamar saya” atau “Itu kan di kampung sebelah, bukan dikampung saya”. Pola pikir seperti ini termasuk kedalam false consciousness atau kesadaran semu. Dimana individu merasa hak nya sudah terpenuhi berdasarkan kenyamanan semu yang mereka miliki. Kamar tidur yang bersih sangatlah berbeda dengan alam yang bersih, namun kenyamanan semu ini membuat sang individu memiliki kesadaran yang dibatasi oleh kenyamanan semu itu sendiri.
Dalam antropologi dan sosiologi, kenyamanan semu ini banyak sekali dimiliki oleh kalangan middle class. Ketika mereka merupakan kedudukan kelas proletar atau kelas pekerja yang memiliki kenyamanan lebih. Padahal hak mereka tidak terbatas pada kamar tidur yang bersih, namun sampai pada alam yang bersih.
Contoh ini tidak hanya berpaku pada hak akan lingkungan yang bersih, namun dalam bermasyarakat banyak sekali hak-hak yang sudah diatur dalam konstitusi dan seharusnya dipenuhi oleh negara. Misalnya hak atas memperoleh pendidikan, hak atas berpendapat, hak atas berserikat, hak untuk kesehatan, dan berbagai hak lainnya.
Kesadaran akan kelas memberikan akses untuk kita keluar dari false consciousness. Melihat dari sudut pandang yang lebih menyeluruh tentang hak dan bagaimana masyarakat secara kolektif dapat memperoleh pemenuhan hak-haknya. Memahami bahwa kedudukan dalam masyarakat memiliki pengaruh dalam pemenuhan hak.
Bagaimana kesadaran akan kelas bagi perancang teknologi? Dengan memahami bahwa kedudukan proletar dan borjuis memiliki pengaruh yang tak sama dalam tatanan masyarakat, seorang perancang teknologi dapat menjadi peran penting dalam membentuk struktur sosial yang adil dengan memitigasi ketidakadilan sistemik.
Kesadaran Kelas bagi perancang teknologi
1. Teknologi Tidak Netral
Teknologi dibentuk sebagai refleksi dari kondisi sosial yang berlangsung di masyarakat. Dan kerapkali dibangun atas kepentingan kapital, bukan kesejahteraan. Maka sejatinya keberpihakkan teknologi akan selalu pada pemegang modal bukan pada kelas pekerja. Hal ini membuat teknologi menjadi manifestasi akan intensi, bias, dan kepentingan kelas dari pemilik dan pembuat teknologi itu sendiri.
Contohnya layanan aplikasi transportasi online. Secara sederhana, mereka memudahkan para driver untuk leluasa memilih jam kerja dan memudahkan untuk menemukan para customernya. Namun pada kenyataanya semuanya diatur secara terpusat yang mengedepankan keuntungan dan mengontrol kondisi pekerjaan, tarif, dan harga yang diatur secara ‘alogritma’. Teknologi yang netral merupakan pandangan dari kesadaran semu, karena teknologi memiliki kekuatan dan kekuasaan baik digunakan untuk memelihara hirarki atau berusaha menghancurkannya.
2. Dampak Teknologi pada kelas sosial
Sebagai pengembang teknologi, kita memiliki peran yang penting dalam membuat inovasi. Kesadaran akan ketidak-netralan teknologi membuat kita dapat memitigasi dan menciptakan teknologi yang adil dan inklusif. Namun jika tidak memiliki kesadaran ini, teknologi akan tetap menjadi pendorong kekuatan dan kekuasaan, dan secara tidak sadar kita menjadi pendukung yang membuat kondisi ini tetap ada.
Misalnya dalam pengembangan teknologi terbaru saat ini, AI generatif. Saat ini pengembangan AI mencapai titik dimana kita dapat membuat gambar dan video. Sejatinya, untuk model AI ini dapat beroperasi, mereka membutuhkan banyak gambar dan video untuk dapat melatih dirinya sendiri. Namun dataset yang digunakan oleh model ini bisa membentuk model AI menjadi tidak netral atau disebut juga sebagai racial bias.
Misalnya ketika meminta “Buat gambar seorang pencuri yang sedang tertangkap”, AI dapat membuat foto yang didasari oleh steriotip seorang pencuri (Imigran berkulit gelap). Atau meminta “buat video seorang teroris yang sedang berbincang” dan AI akan membuat video yang berisikan individu yang bersteriotip sebagai seorang teroris (berpakaian agama atau ras tertentu).
Racial bias ini berdasarkan dari dataset yang digunakan untuk melatih model tersebut. Jika dataset tersebut terbatas pada steriotip tertentu, maka hasil generatifnya juga akan menjadi terbatas pada bias rasisme. Salah satu cara agar tidak terjadi hal ini adalah dengan memperbanyak dataset yang digunakan. Namun secara bisnis, apakah menjadi prioritas? Ketika keuntungan menjadi penggerak dan penentu utama operasi bisnis, apakah racial bias menjadi masalah yang perlu diprioritaskan?
Inilah mengapa teknologi tidak pernah netral. Karena datang dari modal, teknologi akan selalu memprioritaskan keuntungan dibanding kesejahteraan. Dan sebagai pengembang teknologi, kesadaran ini penting karena kita dapat memitigasi ketidakadilan dan menciptakan teknologi yang adil dan inklusif.
3. Tanggung Jawab Profesi Perancang Teknologi & Implementasi Praktek Perancangan
Bagaimana kita bisa membuat teknologi yang adil dan mengedepankan kesejahteraan? Pada dasarnya dengan mengedepankan kesejahteraan pengguna, pemegang modal juga akan mendapatkan keuntungan yang berkelanjutan. Pengalaman penggunaan teknologi sangatlah berpengaruh pada keberlangsungan dari teknologi itu. Semakin baik pengalamannya, semakin banyak orang akan menggunakannya. Namun bagaimana kita bisa membuat itu terjadi?
Melakukan pendekatan user-centered kita dapat membuat dan merancang teknologi menjadi terpusat pengalaman pengguna. Namun alih-alih menggunakan pendekatan ini pada manipulasi dan mengedepankan keuntungan, pendekatan ini haruslah terpusat pada kesejahteraan manusia dan perlindungan hak-hak pengguna.
Empati menjadi karakteristik yang sangat penting untuk bisa menciptkan ini. Dengan merefleksikan posisi, pengalaman pribadi, dan privilese sebagai perancang juga melibatkan komunitas lokal dan kelompok terpinggirkan, perancang teknologi bisa mendapatkan informasi yang komprehensif tentang bagaimana menciptakan teknologi yang inklusif.
Kesadaran akan kelas ini memberikan sudut pandang yang lebih luas dalam memelihara dan memperkaya rasa empati. Kemampuan berempati ini lah yang menjadi bekal terpenting seorang perancang teknologi. Perancang etis yang mengedepankan kesejahteraan pengguna dapat membuat teknologi yang inklusif dan memitigasi teknologi yang tidak adil.
Ditulis Oleh
Dzaki Dwitama
